Tahun Ini Bisa Jadi Titik Balik Pasar Kripto Indonesia

0
10

BI-Tokocrypto memproyeksikan tahun 2026 sebagai momentum kebangkitan pasar aset kripto di Indonesia setelah industri melewati fase konsolidasi sepanjang 2025.

Dengan tingkat penetrasi yang masih relatif rendah serta fondasi pasar yang semakin matang, ruang pertumbuhan jumlah investor dan nilai transaksi dinilai masih terbuka luas.

CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyatakan potensi ekspansi pasar kripto nasional masih sangat besar memasuki 2026. Hingga kini, tingkat penetrasi investor kripto di Indonesia baru berada di kisaran 7% dari total populasi, meskipun secara jumlah absolut Indonesia termasuk salah satu pasar kripto terbesar di dunia.

“Dalam skenario optimistis, jumlah investor kripto nasional berpotensi bertambah sekitar tujuh hingga delapan juta orang sehingga totalnya mendekati 26–27 juta investor,” kata Calvin dilansir dari Antara, Senin (12/1/2026).

“Sementara dalam skenario moderat, penambahan sekitar empat hingga lima juta investor dapat mendorong total investor berada di kisaran 23–24 juta hingga akhir 2026,” tambahnya.

Calvin menambahkan, apabila kondisi pasar global lebih kondusif dan minat terhadap aset berisiko kembali meningkat, laju adopsi kripto di Indonesia berpeluang tumbuh lebih cepat.

Dari sisi aktivitas, kuatnya basis transaksi sepanjang 2025 juga membuka peluang peningkatan nilai transaksi pada tahun berikutnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total nilai transaksi aset kripto di dalam negeri sepanjang 2025 mencapai Rp 482,23 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian 2024 yang tercatat sebesar Rp 650,61 triliun.

“Kami berharap 2026 menjadi momentum pembalikan sehingga nilai transaksi kembali meningkat seiring pasar yang semakin matang dan partisipasi pengguna yang lebih berkualitas,” kata Calvin.

Meski nilai transaksi mengalami koreksi, Tokocrypto menilai kondisi pasar kripto Indonesia sepanjang 2025 justru menunjukkan proses pendewasaan. Aktivitas pasar tidak lagi semata didorong euforia bull market, melainkan bergerak menuju fase konsolidasi dengan likuiditas yang tetap terjaga serta investor yang semakin disiplin dalam mengambil keputusan.

Data OJK juga menunjukkan, hingga November 2025, jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 19,56 juta orang. Jumlah tersebut meningkat 2,5% dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebanyak 19,08 juta investor. Capaian ini mencerminkan pasar yang terus berkembang meski tingkat penetrasinya masih relatif rendah.

“Tahun 2025 bukan soal akselerasi yang meledak-ledak, tetapi tentang kejelasan arah. Pasar kripto Indonesia tetap membesar dan, yang lebih penting, semakin matang. Investor kini lebih selektif, ekosistem semakin tertib, dan regulasi menjadi fondasi yang memperkuat kepercayaan,” ujar Calvin.***

Leave a reply