AMBGI, Aktif Terlibat Diskusi Pelaksanaan MBG Bersama BAKOM RI

BI-Asosiasi Makan Bergizi Gratis Indonesia (AMBGI) yang diwakili oleh Ketua Dr. (Cand.) HM. Turino Junaedy, SH, MH dan Kepala Bidang Advokasi Dr. Ir. Reswanda MM terlibat aktif dalam forum diskusi tentang arah dan problem program MBG dan Sekolah Rakyat.
Acara ini berlangsung di Ruang Rapat Rektorat ITS, pada hari Rabu tanggal 18 Februari 2026. Acara ini diinisiasi oleh PaSAK (Pusat Studi dan Analisa Kebijakan) yang dipimpin Prof. Dr. Murpin Joshua Sembiring bekerjasama dengan pihak ITS.
Acara ini dihadiri oleh Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI yang juga sekaligus sebagai Wamen Komdigi, Angga Raka Prabowo yang merupakan kader Gerindra dan lingkaran utama Presiden Prabowo Subianto. Dalam acara ini hadir pula berbagai praktisi dan pakar akademis dai berbagai bidang dan Lembaga Pendidikan serta unsur BEM mahasiswa.
Rektor ITS Prof Dr Ir Bambang Pramujati ST MSc. Eng, PhD menyatakan FGD ini merupakan bentuk kontribusi masyarakat Indonesia untuk pemerintah. Lewat diskusi ini, masukan dari beberapa lapisan masyarakat yang hadir dalam FGD menjadi jembatan kritik dan evaluasi bagi program pemerintah. Beliau menyatakan masukan dari berbagai pihak ini penting untuk Bakom RI guna perbaikan kebijakan pemerintah.
Demikian pula, Ketua Pelaksana FGD Prof Dr Murpin Josua Sembiring mengatakan bahwa diskusi kritis ini juga membahas pro dan kontra program pemerintah saat ini. Salah satunya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih membutuhkan kajian lebih dalam.

Sementara itu, Narasumber utama Kepala Bakom RI yang juga merupakan Wamen Komdidgi RI Angga Raka Prabowo menyatakan bahwa diskusi ini menjadi wadah penyebaran informasi beberapa program dari Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto. Salah satunya adalah program MBG yang menjadi bentuk sinergi pemerintah Indonesia untuk mengintervensi gizi anak-anak penerus bangsa Indonesia. Meskipun begitu, kekurangan dan kendala yang ada pada program MBG masih perlu diperbaiki secara sistematis untuk kebermanfaatan bersama.
Acara ini dirasakan sangat penting bagi BAKOM RI, sebagai bagian dari upaya untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak yang mewakili unsur masyarakat, khususnya dalam upaya perbaikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat (SR). AMBGI dalam proses diskusi ini, juga mendapatkan kesempatan untuk memberi pandangan dan pendapat berdasarkan pengalaman dan fakta lapangan dari anggota-anggotanya dalam program MBG.

Ketua Umum AMBGI, HM. Turino Junaedy menberikan masukan bahwa program MBG ini telah memberi dampak baik bagi Penerima Manfaat (PM) MBG, dimana dirasakan oleh siswa dan orang tua bahwa Pemerintah hadir sampai di meja makan. Selain dampak langsung pada perkembangan fisik sehingga dapat mengatasi masalah stunting dan juga kemampuan berfikir para siswa yang akan menjadi generasi emas Indonesia.
Program ini juga bermanfaat bagi tumbuh kembang perekonomian di berbagai sektior antara lain sektor manufaktur bahanbahan konstruksi, penyerapann tenaga kerja konstruksi, demikian pula Ketika SPPG berjalan industry pada sektor pertanian, perikanan, peternakan, bahan pokok seperti beras, minyak,tepung, gula, energi seperti gas dan listrik, industri UMKM alat dapur dan lainnya meningkat secara signifikan.
Namun demikian selain sisi positif, ada banyak hal yang harus dapat dibenahi antara lain adalah untuk memastikan agar program ini dapat berlangsung secara kontinu agar mampu mencapai dampak jangka panjangnya. Selain itu mekanisme pada Badan Gizi Nasional (BGN) harus lebih diperkuat dan transparan, utamanya dalam proses dan kesempatan bagip ihak swasta (Yayasan) untuk diutamakan dalam berperan dalam program ini tanpa harus bersaing dengan institusi-institusi kenegaraan lainnya dan mendapatkan keterbukaan proses dan informasi
yang lebih terbuka.

Selain itu juga diharapakan, peran dari Kareg, Wakareg, Korwil, Korcam dan KPPG yang merupakan representasi BGN didaerah untuk aktif menjalin hubungan dengan dapur-dapur dan rajin turun ke lapangan. Tidak kalah penting adalah bagaimana upaya untuk dapat mengukur keberhasilan program MBG ini secara akurat tentang dampak dan hasilnya. Maka diperlukan penelitian-penelitian yang melibatkan institusi dan pakar penelitian sehingga dapat diketuhui persis besaran dampak pada aspek-aspek penting terkait misalnya pada proses tumbuh kembang anak baik fisik maupoun kemampuan intelijensia, dampak penyerapan tenaga kerja dan dampak pertumbuhan ekonomi per sektor serta peningkatan kesehatan serta aspek lainnya.
Masukan lain yang diberikan adalah bagaimana pola insentif tiap dapur didasarkan pada klasifikasi standar tiap dapur, agar terhindar dari potensi uduhan penyebab kerugian negara dan kepastian investasi bagi mitra MBG. Acara ini dirasakan oleh para peserta sangat baik manfaatnya dan diharapkan dapat direspon oleh Pemerintah RI atas masukan yang ada sebagai bagian dari upaya perbaikan program MBG dan SR ini.***















