Penjualan Ritel Ramadan Melambat, Puncak Belanja Diperkirakan Bergeser

BI-Kinerja penjualan eceran pada awal Ramadan tahun ini diperkirakan tetap tumbuh, meski tidak setinggi lonjakan yang terjadi pada periode yang sama tahun lalu.
Data Indeks Penjualan Riil (IPR) menunjukkan penjualan eceran pada Februari 2026 diproyeksikan naik 4,4% secara bulanan (month to month/mtm), berbalik dari kontraksi 2,7% pada Januari.
Namun jika dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, laju kenaikan tersebut terlihat lebih landai. Pada Maret 2025, penjualan eceran sempat melonjak hingga 13,6% mtm karena efek Ramadan yang terkonsentrasi dalam satu bulan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai perbedaan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor kalender, bukan karena konsumsi masyarakat melemah.
“Tahun ini, 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari sehingga dorongan belanja hanya sebagian masuk ke data Februari. Sementara pada 2025 efek Ramadan terkonsentrasi di satu bulan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).
“Pertumbuhan Februari kemungkinan mencerminkan pergeseran puncak belanja ke Maret,” kata Josua.
Bank Indonesia juga mencatat ekspektasi penjualan tiga bulan ke depan meningkat. Indeks ekspektasi penjualan untuk Maret 2026 naik ke level 146,8, seiring meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Di sisi lain, pola belanja masyarakat juga terlihat lebih berhati-hati. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan indeks keyakinan konsumen Februari 2026 berada di level 125,2, masih dalam zona optimistis meski turun dari 127,0 pada Januari.
Porsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi juga sedikit menurun, dari 72,3% menjadi 71,6%. Sebaliknya, porsi tabungan meningkat dari 16,5% menjadi 17,7%. Kondisi ini menandakan masyarakat tetap berbelanja, namun lebih selektif.
Tekanan harga pangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sikap hati-hati tersebut.
Inflasi Februari 2026 tercatat 0,68% secara bulanan dengan penyumbang utama kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Harga beras juga masih mengalami kenaikan baik di tingkat grosir maupun eceran.
Meski tidak setinggi Ramadan tahun lalu, peningkatan penjualan eceran tetap memberi dorongan bagi aktivitas ekonomi. Kenaikan konsumsi menopang sektor perdagangan, distribusi, logistik, produksi makanan dan minuman, hingga omzet pelaku UMKM menjelang Lebaran.
Dari sisi makro, pola kenaikan yang lebih bertahap justru membuat dorongan konsumsi tersebar antarbulan, bukan hanya melonjak pada satu periode.
“Angka Februari masih sehat, cukup kuat menjaga mesin konsumsi tetap hidup dan kemungkinan menguat lagi pada Maret saat efek Ramadan, THR, mudik, dan stimulus masuk penuh,” pungkas Josua. ***
Dengan pola tersebut, peningkatan konsumsi tahun ini cenderung tersebar antara Februari dan Maret. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan penjualan eceran Februari tetap tumbuh positif, yakni 4,4% secara bulanan dan 6,9% secara tahunan.
Artinya, konsumsi masih bergerak naik meski tidak melonjak tajam.
Selain faktor kalender, waktu pencairan berbagai stimulus juga ikut memengaruhi. Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara mulai dicairkan pada 26 Februari 2026, sementara berbagai diskon transportasi untuk kereta, kapal laut, penyeberangan, hingga pesawat baru banyak berlaku pada pertengahan hingga akhir Maret.***















