Likuiditas Bank Ketat, Begini Straregi Soal KPR

BI-Suku bunga floating KPR di sejumlah bank besar kini bertengger di kisaran 11% hingga 13,5% pada Agustus 2026, sebuah kondisi yang menuntut kewaspadaan ekstra dari para pemburu maupun pemilik hunian.
Kenaikan ini dipicu oleh pengetatan likuiditas perbankan serta merangkak naiknya rata-rata bunga kredit nasional menjadi 8,81%, meskipun Bank Indonesia masih menahan suku bunga acuannya di level 5,75%. Bagi konsumen, situasi ini menjadi sinyal kuat bahwa biaya cicilan rumah berpotensi melonjak pesat begitu masa promo bunga tetap berakhir.
Menghadapi tantangan ini, setiap bank menerapkan strategi yang berbeda dalam menetapkan tarif bagi nasabahnya. PT Bank Central Asia Tbk memilih jalan aman dengan mengunci bunga floating di level 11% demi menjaga stabilitas cicilan konsumen di tengah pasar yang berat.
Langkah ini berbeda tipis dengan PT Bank Danamon Indonesia Tbk yang mematok tarif 12,5% setelah masa bunga tetap usai. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk menetapkan bunga floating sebesar 13% yang difokuskan untuk program pindah KPR hingga September nanti, disusul oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk yang mencatatkan angka tertinggi sebesar 13,50%.
Di sisi lain, bagi Anda yang mencari biaya dasar lebih rendah, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menawarkan angin segar karena menahan acuan dasarnya di angka 7,95% tanpa rencana kenaikan, didampingi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang masing-masing mengunci angka acuan di level 8,50% dan 9%.
Kondisi pasar yang dinamis ini mengharuskan Anda sebagai konsumen untuk lebih cerdas dalam mengelola keuangan keluarga. Ketika mengajukan KPR baru, sangat disarankan untuk mengincar skema bunga tetap dengan durasi yang panjang agar terhindar dari fluktuasi pasar dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Anda yang sudah terjebak dengan bunga mengambang yang mencekik, program pindah KPR atau take over ke bank lain yang sedang mengadakan promo, seperti pameran wondrX 2026 milik BNI, bisa menjadi penyelamat anggaran bulanan. Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah mempertebal tabungan dana darurat khusus untuk mengamankan pembayaran cicilan rumah jika sewaktu-waktu kondisi ekonomi kembali mengetat.***















