Proyek Bus Rapid Transit Surabaya Raya akan Melintasi Jalur Khusus

0
6

BI-Pemerintah tengah menyiapkan pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) wilayah Surabaya Raya yang akan menghubungkan wilayah metropolis Sidoarjo-Surabaya dengan jalur khusus yang akan tersedia di tiap-tiap ruas jalan yang dilewati.

Pengembangan moda transportasi umum tersebut dibahas melalui kerja sama antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya.

Saat ini, proyek masih dalam tahap awal perencanaan, termasuk penyusunan Detail Engineering Design (DED), pematangan rute, penentuan lokasi depo hingga kebutuhan infrastruktur pendukung.

Jalur khusus tersebut diharapkan menjaga keteraturan jarak kedatangan antar bus atau headway hingga waktu tempuh perjalanan. Operasional BRT ditarget lebih cepat dari moda transportasi umum lainnya, dengan target waktu kedatangan armada dan kapasitas angkut yang masih akan dikalkulasi kembali dalam proses DED.

Ketua Tim Perencanaan dan Pengembangan Angkutan Dishub Kota Surabaya Sekar Satya Mayang Sari menyebut pembahasan bersama Kemenhub saat ini masih condong pada prioritas penyelesaian DED, termasuk memastikan jalur yang akan digunakan, lokasi depo, hingga jalur layang.

Dalam pembahasan tersebut, Kemenhub juga meminta masukan Pemkot Surabaya mengenai sejumlah rencana koridor layang (elevated). Namun, Mayang menyebut rute tersebut belum diputuskan secara terperinci sehingga masih diperlukan pembahasan lanjutan.

“Jadi, kemarin itu lebih fokus untuk penyelesaian DED. Kepastian untuk lahan deponya, kemudian kepastian jalurnya. Dari Kementerian juga memastikan untuk beberapa koridor BRT yang elevated, meminta persetujuan dari Surabaya. Karena belum detail paparannya, nanti ada pembahasan lanjutan terkait jalur layang itu,” ucap Sekar, Jumat (23/10/2026).

Dalam rencana awal yang dibahas, pembangunan BRT akan dilakukan melalui dua fase. Fase pertama direncanakan akan menghubungkan Waru, Kabupaten Sidoarjo, lalu masuk ke Surabaya melalui Jalan Ahmad Yani dan berlanjut menuju Wonokromo.

Dari kawasan tersebut, pemerintah masih mempertimbangkan sejumlah rute alternatif. Salah satunya adalah melewati Jalan Diponegoro sebelum terhubung dengan koridor dari wilayah barat Surabaya.

Sekar menyebut Jalan Diponegoro lebih dipilih dibandingkan Jalan Darmo karena kawasan Darmo banyak melintasi ruang terbuka hijau hingga kawasan heritage.

“Saat ini masih akan dibahas, apakah akan melewati Darmo atau Diponegoro,” kata dia.

Untuk koridor barat direncanakan berawal dari kawasan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kawasan Lidah Wetan, kemudian melintasi Jalan HR Muhammad dan Jalan Mayjend Sungkono, sebelum berbelok ke Jalan Indragiri dan bertemu dengan koridor selatan di kawasan Jalan Dr Soetomo. Selanjutnya, rute tersebut direncanakan mengarah ke Jalan Urip Sumoharjo.

Namun, Sekar menyebut pemiilihan jalur tersebut juga masih dikaji, termasuk alternatif melalui kawasan Keputran yang memungkinkan pembangunan jalur layang di atas lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Dalam rencana yang dibahas, jalur layang dari Keputran akan turun menuju pusat kota di Jalan Basuki Rahmat. Dari titik tersebut, perjalanan direncanakan berlanjut melalui jalur bawah hingga kawasan Tunjungan sebagai titik akhir fase pertama BRT.

Sekar menekankan seluruh rencana rute tersebut belum sepenuhnya final. Menurut dia, penentuan jalur masih harus menyesuaikan hasil DED, terutama pada ruas yang membutuhkan konstruksi layang serta kawasan dengan keterbatasan ruang jalan.

Ia juga menyatakan apabila fase satu BRT rampung nantinya, maka jalurnya akan dilanjutkan hingga mengarah ke wilayah Surabaya utara.

“Fase kedua direncanakan menjadi kelanjutan dari koridor fase pertama menuju kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Namun, detail rute untuk tahap lanjutan itu belum dibahas mendalam,” sebutnya.

Pemkot Surabaya juga berencana untuk melakukan integrasi operasional BRT dengan angkutan umum yang telah beroperasi, termasuk Suroboyo Bus dan angkutan pengumpang (feeder) Wira-Wiri. Sekar menjelaskan, kedua layanan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan koridor BRT agar jaringan transportasi umum dapat saling terkoneksi.

Selain itu, usulan rute dari masing-masing layanan tersebut juga akan ditelaah kembali untuk menghindari tumpang tindih dan mendukung konektivitas perjalanan penumpang.

“Jadi nanti semuanya, Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, yang melewati koridor bisa masuk ke koridornya BRT. Usulan rutenya juga akan kami kaji lagi dan disesuaikan dengan rencana rute dari Pemkot Surabaya supaya terintegrasi,” ucap dia.

Ia juga menjelaskan BRT juga diwacanakan menggunakan armada bus bertenaga listrik. Depo yang dibangun nantinya akan mendukung operasional armada, termasuk penyediaan stasiun pengisian daya apabila rencana tersebut direalisasikan.

“Soal ini belum dimatangkan. Namun, dalam pembahasan juga dibahas bahwa untuk depo akan ditambahkan stasiun pengisian daya,” ungkapnya.

Adapun penyusunan DED BRT Surabaya Raya direncanakan berlangsung hingga Maret 2027. Usai rampung, tahapan berikutnya akan bergantung pada proses pengusulan dan kesiapan pendanaan. Sekar menyebut pembangunannya berpeluang menempuh skema pinjaman luar negeri.***

Leave a reply