Gubernur BI Destry Tanggapi Pernyataan Hashim soal Rupiah Berpotensi ke Rp 22.000

0
6

BI-Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti merespons pernyataan Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Hashim Djojohadikusumo yang memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per dolar Amerika Serikat (AS) apabila kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik merosot.

Destry menegaskan, tugas utama BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut dia, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi fundamental ekonomi, permintaan dan penawaran di pasar, serta persepsi investor.

“Kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group kita,” ujar Destry kepada awak media, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini merupakan bagian dari fluktuasi di pasar keuangan.

Menurutnya sebagai mata uang yang bergerak mengikuti mekanisme pasar, rupiah turut dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran serta sentimen pelaku pasar.

Destry mencontohkan, perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat juga dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Menurut dia, sentimen positif di pasar global dapat mendorong penguatan mata uang, termasuk rupiah.

“Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global. Amerika tidak menaikkan suku bunga The Fed, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi, banyak faktor yang di luar kontrol dari kita,” jelasnya.

Meski demikian, Destry memastikan BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Stabilitas tersebut dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi sektor riil dapat terus berjalan dan membuka lapangan pekerjaan.

“Fokus kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi, stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga supaya tercipta iklim ekonomi yang kondusif, sehingga nantinya ekonomi di sektor riil bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” ungkap Destry.

Terkait kemungkinan kenaikan suku bunga acuan untuk merespons tekanan terhadap rupiah, Destry menyatakan bahwa keputusan kebijakan moneter akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar ke depan.

Menurut Destry, BI memiliki beragam instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah, sehingga respons bank sentral tidak terbatas pada penyesuaian suku bunga acuan.

“Kita lihat perkembangannya seperti apa, karena kita punya kebijakan banyak instrumennya, tidak hanya suku bunga saja,” katanya.

Destry menjelaskan, instrumen yang dimiliki BI antara lain insentif untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging, kebijakan makroprudensial, serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Adapun terkait kemungkinan menaikkan suku bunga untuk menarik aliran modal asing atau capital inflow, Destry mengatakan BI akan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar.

“Semua lihat kondisi di pasar ya. Kita lihat nanti bagaimana,” ujarnya.

Untuk diketahui, dalam agenda Rapimnas Kadin pada Kamis (29/10/2026), Hashim mengingatkan kalangan pengusaha agar menjaga kepercayaan investor asing di tengah sorotan terhadap praktik perdagangan saham di pasar modal Indonesia.

Hashim memperkirakan, keluarnya investasi asing dari pasar saham domestik berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah apabila kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia menurun.

“Saya sudah hitung bisa jadi Rp 20.000–Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000. Kalau itu terjadi, rupiah bisa Rp 21.000–Rp 22.000 per dolar AS. Pinjaman luar negeri kita harus bayar lebih mahal,” kata Hashim.

Menurutnya, pelemahan rupiah hingga level tersebut berpotensi meningkatkan beban pembayaran pinjaman luar negeri Indonesia. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian nasional.***

Leave a reply