Pedagang Berharap Pemkot Kembali Hidupkan THR IT Mall Surabaya

BI-Harapan untuk menghidupkan kembali kejayaan THR IT Mall Surabaya, dahulu bernama Hi Tech Mall, terus disuarakan para pedagang. Meski Pemerintah Kota Surabaya telah beberapa kali melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan renovasi fisik, para pelaku UMKM menilai upaya tersebut belum cukup kuat untuk menarik kembali pedagang dan pengunjung.
Ketua UMKM THR IT Mall, Andre, mengatakan bahwa sidak yang dilakukan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, sudah berlangsung beberapa kali. Namun, kondisi perdagangan dinilai masih relatif sama, terutama dari sisi keterisian stan dan jumlah pengunjung.
“Untuk perbaikan fisik sudah ada, renovasi memang sudah jalan. Tapi masalah utama kami masih di promosi dan pengisian stan, khususnya di sektor IT. Banyak stan yang masih kosong,” ujar Andre saat ditemui di lokasi kepada detikJatim, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah citra THR IT Mall yang terlanjur dianggap tutup oleh masyarakat. Bahkan, warga Surabaya sendiri banyak yang tidak mengetahui bahwa pusat perbelanjaan tersebut masih beroperasi.
“Image yang terbentuk di masyarakat itu THR IT Mall sudah tutup. Ini yang berat kami lawan. Makanya kami sebagai pedagang sudah berulang kali mengundang content creator untuk menunjukkan kalau sebenarnya masih buka,” jelasnya.
Andre menyebut, saat ini hanya sekitar 80 stan yang masih aktif. Padahal, THR IT Mall merupakan ikon pusat perdagangan IT di Indonesia Timur yang telah berdiri sejak sekitar 2005 dan pernah mengalami masa kejayaan dengan omzet miliaran rupiah.
Ia juga mengungkapkan bahwa biaya sewa stan yang dikelola Pemkot Surabaya sebenarnya sangat terjangkau. Untuk satu stan, biaya sewa hanya sekitar Rp 10 juta per tahun, sudah termasuk listrik, kebersihan, dan keamanan. Bahkan, angka tersebut merupakan hasil diskon hingga 50 persen dari tarif normal.
“Kalau dulu waktu dikelola swasta, satu tahun bisa sampai Rp 60 juta, belum listrik. Sekarang ini sangat murah. Justru itu yang bikin kami masih bisa bertahan meski penjualan turun sampai sekitar 75 persen,” katanya.
Meski demikian, Andre menilai Pemkot masih perlu melakukan terobosan yang lebih berani, seperti promosi besar-besaran secara resmi, pemberian insentif tambahan, atau bahkan kebijakan gratis sewa sementara untuk mengisi stan kosong.
“Kalau yang bicara langsung Pemkot, dampaknya beda. Kalau pedagang yang ngomong, masih dianggap promosi sepihak. Kami ingin ada pernyataan resmi bahwa sewa di THR IT Mall ini murah dan aman,” tegasnya.
Selain promosi, para pedagang juga berharap pengembangan THR IT Mall dilakukan secara serius dan tidak setengah-setengah. Mereka menginginkan konsep yang jelas, fokus pada sektor teknologi informasi, serta dukungan kolaboratif antara pedagang dan pemerintah kota.
“THR IT Mall ini jangan sampai hidup segan mati tak mau. Kalau mau dikembangkan, ya dikembangkan sekalian. Kami siap berkolaborasi,” ujar Andre.
Ia optimistis, dengan promosi yang masif, kebijakan yang jelas, serta dukungan penuh dari Pemkot Surabaya, THR IT Mall masih berpeluang bangkit dan kembali menjadi pusat rujukan belanja dan layanan IT di Surabaya.***















