Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim-Jateng Perdana 2026, Transaksi Tembus Rp3,15 T

0
22

BI-Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur memimpin langsung Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Jawa Tengah perdana tahun 2026 yang membukukan komitmen transaksi lebih dari Rp3,15 triliun.

Kegiatan yang digelar di Ballroom PO Hotel Semarang, Kamis (29/1/2026), ini menjadi langkah awal penguatan integrasi pasar domestik dan rantai pasok antarwilayah di awal tahun.

Total nilai komitmen transaksi dalam misi dagang tersebut tercatat sebesar Rp3.152.408.358.000. Capaian ini terdiri atas transaksi Jatim Jual senilai Rp2,76 triliun, Jatim Beli sebesar Rp296,86 miliar, serta komitmen investasi mencapai Rp96 miliar.

“Matur nuwun semuanya, ini sinergi yang luar biasa. Dari business matching terlihat jelas kebutuhan yang saling melengkapi antara Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Khofifah dalam keterangan yang diterima Selasa (3/2/2026).

“Jawa Timur membutuhkan produk Jawa Tengah, begitu juga sebaliknya. Alhamdulillah, hingga pukul 17.00 WIB transaksi sudah menembus Rp3,152 triliun lebih,” tambahnya.

Misi dagang ini dihadiri Taj Yasin Maimoen Wakil Gubernur Jawa Tengah, jajaran perangkat daerah Pemprov Jatim dan Jateng, serta perwakilan dunia usaha, antara lain HIPMI, Kadin, IWAPI, REI, dan Gekrafs dari kedua provinsi. Forum ini dirancang sebagai wadah memperluas pasar, memperkuat konektivitas perdagangan, sekaligus mendorong integrasi ekonomi regional.

Khofifah menjelaskan, komoditas yang diperdagangkan mencerminkan kekuatan sekaligus kebutuhan masing-masing daerah. Dalam skema Jatim Jual, Jawa Timur memasok antara lain produk rokok, beras, kopi, gula kristal putih, tetes tebu, pakan ikan dan udang, benih tebu dan jagung, surimi, daging ayam dan sapi beserta produk olahannya, susu, ikan dan aneka produk perikanan, hingga pupuk organik cair.

Sementara pada skema Jatim Beli, Jawa Timur menyerap sejumlah komoditas dari Jawa Tengah seperti kayu bulat, telur ikan, cengkeh, tembakau, katul, botol plastik, gula merah tebu, tepung tapioka, hingga produk UMKM seperti sambal pecel dan tas anyam. Pola transaksi dua arah ini dinilai mampu mengoptimalkan muatan berangkat dan muatan balik antarwilayah.

“Produk yang diperdagangkan dalam misi dagang ini menunjukkan bahwa kita saling melengkapi, bukan saling bersaing,” kata Khofifah.

Selain transaksi perdagangan, misi dagang ini juga mencatat komitmen investasi di sektor perumahan. Sepuluh transaksi terbesar didominasi sektor peternakan dengan nilai mencapai Rp1,13 triliun per tahun melalui kerja sama asosiasi pelaku usaha peternakan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kerja sama strategis lainnya meliputi komoditas gula kristal putih senilai Rp300 miliar per tahun dan industri hasil tembakau senilai Rp192 miliar per tahun.

Menurut Khofifah, misi dagang berkelanjutan merupakan instrumen penting pemerintah daerah untuk mempertemukan pelaku usaha penjual dan pembeli secara lebih efektif, baik melalui skema government to business maupun business to business. Upaya ini juga sejalan dengan penguatan perdagangan dalam negeri dan substitusi impor, khususnya pemenuhan bahan baku industri.***

Leave a reply