Purbaya:Pertumbuhan Ekonomi 5% Tak Cukup Serap Tenaga Kerja Baru

0
9

BI-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini tertahan di kisaran 5% belum cukup kuat untuk menyerap tambahan tenaga kerja baru yang terus memasuki pasar kerja setiap tahunnya.

Purbaya meyakini mesin perekonomian nasional setidaknya harus dipacu hingga level 6,7% sampai 7% hanya untuk menampung angkatan kerja baru tersebut.

“Indonesia sudah lama tumbuh di kisaran 5%. Itu kayaknya bagus, sebagian orang bilang itu sudah maksimal. Padahal menurut saya, kita paling tidak harus tumbuh 6,7% menuju 7% untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja,” ujar Purbaya dalam acara Wisuda Program Sarjana dan Vokasi Universitas Indonesia, dikutip Minggu (152).

Sejalan dengan itu, bendahara negara itu menggarisbawahi urgensi Indonesia untuk melepaskan diri dari jebakan pendapatan menengah. Dia memaparkan rekam jejak historis negara-negara maju seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, hingga China yang harus mencetak pertumbuhan minimal 10% alias double digit selama lebih dari satu dekade untuk bisa naik kelas.

Oleh karena itu, Purbaya menilai target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto tidaklah muluk-muluk, melainkan sebuah prasyarat fundamental yang harus dicapai Indonesia.

“Sebenarnya 8% masih kurang, harus didorong ke arah 10%. Tapi untuk 5 tahun ke depan kalau dapat 8%, itu sudah cukup,” jelasnya.

Meski mematok target tinggi ke depan, Purbaya meminta masyarakat tidak pesimistis dengan fondasi ekonomi saat ini. Dia mengambil contoh realisasi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang berhasil menyentuh 5,11%, ditopang oleh dorongan kuat pada kuartal terakhir sebesar 5,39%.

Capaian tersebut, sambung Purbaya, merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, melampaui raksasa ekonomi seperti China, serta negara lain seperti Arab Saudi dan Spanyol.

Kendati demikian, mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu memberikan peringatan. Pertumbuhan di level 5% dinilai masih sangat rentan terhadap gejolak.

“Jadi kita gak boleh tumbuh terlalu lambat,” katanya.

Lebih lanjut, menghadapi tantangan eksternal, Purbaya menepis narasi pesimistis yang kerap menyebutkan bahwa ketidakpastian global akan membuat masa depan ekonomi Indonesia menjadi gelap. Dia mengingatkan bahwa struktur perekonomian Indonesia ditopang kuat oleh permintaan dalam negeri.

Menurut catatannya, permintaan dalam negeri berkontribusi sekitar 90%, sisanya dari global. Oleh sebab itu, Purbaya meyakini meski global sedang tidak baik-baik saja, perekonomian Indonesia bisa tetap aman asalkan permintaan domestik tetap bisa dijaga.***

 

Leave a reply