BPS Ungkap Ironi Harga Beras Naik, Tapi Kesejahteraan Petani Justru Makin Tertekan

0
19

BI-Kenaikan harga beras belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026 justru mengalami penurunan sebesar 0,09% secara tahunan menjadi 125,24.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan penurunan ini terjadi karena kenaikan harga yang diterima petani tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya yang harus dibayar petani.

“Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 0,16%, lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,24%,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).

Penurunan NTP terdalam tercatat pada subsektor hortikultura. Pada subsektor ini, NTP turun 5,31% akibat indeks harga yang diterima petani merosot 4,99%, sementara indeks harga yang dibayar petani justru naik 0,33%.

Di sisi lain, harga beras justru mengalami kenaikan di seluruh rantai distribusi. Di tingkat penggilingan, harga beras naik 0,50% secara bulanan dan 7,42% secara tahunan.

Sementara di tingkat grosir, harga beras mencatat inflasi sebesar 0,39% month on month dan 5,45% year on year (yoy) . Adapun di tingkat eceran, harga beras naik 0,58% mom dan 4,36% yoy.

Ateng menegaskan bahwa data harga tersebut merupakan rata-rata nasional yang mencerminkan berbagai kualitas beras di seluruh wilayah Indonesia.

Data BPS tersebut sekaligus mencerminkan, kenaikan harga beras belum sepenuhnya dinikmati oleh petani, karena di saat yang sama biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga petani juga ikut meningkat, sehingga menekan tingkat kesejahteraan mereka. ***

Leave a reply