Neraca Dagang Jatim Defisit US$1,24 Miliar Selama Kuartak I/2026, Ini Penyebabnya

BI-Neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit sebesar US$1,24 miliar pada periode Januari–Maret 2026, seiring dengan nilai impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor pada kuartal I/2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat total impor mencapai US$7,32 miliar selama tiga bulan pertama 2026, sedangkan ekspor sebesar US$6,07 miliar.
Statistik Ahli Madya BPS Jawa Timur Debora Sulistya Rini mengatakan defisit terjadi baik di sektor migas maupun nonmigas.
“Defisit terjadi di sektor migas maupun nonmigas. Untuk migas defisitnya sebesar US$849,84 juta. Sedangkan nonmigas mencapai US$394,30 juta,” ujarnya dikutip Rabu (6/5/2026).
Dari sisi ekspor, kinerja Jawa Timur tercatat melemah tipis sebesar 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut dipengaruhi kontraksi ekspor nonmigas sebesar 0,75% serta penurunan ekspor migas sebesar 10,96%.
Meski demikian, sejumlah komoditas masih mencatat pertumbuhan positif. Ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati tumbuh 17,64% secara cumulative-to-cumulative (CtC) dan menjadi salah satu penopang utama ekspor nonmigas.
Sebaliknya, ekspor perhiasan dan permata turun 11,60% CtC. Komoditas kayu dan barang dari kayu juga mengalami penurunan sebesar 10,81% CtC.
Secara sektoral, ekspor Jawa Timur masih ditopang industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 93,96% terhadap total ekspor nonmigas senilai US$5,71 miliar.
Sementara itu, sektor pertanian dan pertambangan mengalami penurunan nilai ekspor masing-masing sebesar 33,35% dan 24,96% dibandingkan kuartal I/2025.
Di sisi lain, impor Jawa Timur meningkat 4,62% secara tahunan menjadi US$7,32 miliar. Kenaikan terutama disebabkan oleh impor nonmigas yang mencapai US$6,33 miliar atau tumbuh 12,79% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Debora, kondisi tersebut merefleksikan kondisi industri di Jawa Timur yang masih bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.
“China masih menjadi negara tujuan ekspor sekaligus sumber impor terbesar Jawa Timur. Untuk ekspor nonmigas kontribusinya 16,48%, sementara impor mencapai 36,27%,” jelasnya.***















