Harga Beras Premium di Surabaya Meroket saat Masa Tenang

0
20

BI-Harga beras jenis premium di Kota Surabaya naik variatif saat masa tenang Pemilihan Umum (Pemilu). Pemerintah Kota (Pemkot) memastikan stok beras medium cukup.

Dewi Soeriyawati Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya menyebut, kenaikan ini terjadi di banyak wilayah di Indonesia.

“Pemicunya antara lain harga pangan dunia yang juga sedang meningkat dan terjadinya penurunan stok beras dikarenakan musim panen raya diperkirakan pada bulan Maret,” katanya pada Selasa (13/2/2024).

Dia memastikan kios Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang ada di beberapa pasar utama, tetap disuplai beras medium 10 ton hingga 16 ton setiap pekan.

“Dengan adanya kios TPID untuk memonitor harga beras supaya tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET),” katanya lagi.

Dia menyebut harga beras medium di Kota Surabaya Rp10.900 per kilogram. Jumlah itu sesuai dengan HET yang ditetapkan Bulog untuk beras medium.

“Ke depannya akan dididirikan kios-kios TPID di pasar lainnya untuk menambah pasokan beras di lebih banyak pasar dan masyarakat yang nantinya dapat menjual beras dengan harga murah sesuai ketentuan serta pemerataan wilayah jangkauan kios TPID,” bebernya.

Selain itu, setiap distributor dipastikan tidak ada yang menimbun beras.

“TPID memantau harga dan stok ke gudang, distributor, toko swalayan serta mengimbau kepada mereka untuk menjual dengan harga yang sesuai ketentuan, wajar, dan tidak melakukan penimbunan,” tambahnya.

Termasuk menggelontorkan bahan pokok murah melalui pasar murah di kelurahan.

“TPID mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying serta setop boros pangan dan belanja bijak karena ketersediaan bahan pokok yang ada di Kota Surabaya sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga Surabaya,” tandasnya.

Sementara pantauan suarasurabaya.net di Pasar Pucang Surabaya Senin (12/2/2024) kemarin, beras premium dibanderol harga Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram.

“Sudah bukan naik lagi, ganti harga. Setiap jam itu di distributor harganya berbeda. Misalnya di jam ini saya ambil beras (merk) Pinpin harga Rp15 ribu per kilogram, nanti sore sudah beda lagi harganya bisa jadi Rp16 ribu atau Rp17 ribu per kilogram,” kata Ali salah seorang pedagang.

Pedagang menebak kenaikan karena stok kosong atau permainan program pembagian bansos beras menjelang Pemilu.

“Yang kami tahu, petani kurang air akhirnya gagal panen. Lalu, ini kan bulan mau pemilihan presiden, kemungkinan ada permainan tengkulak juga. Belum lagi nanti ada beras Bulog (bansos) gratis, apa tidak tambah sepi kami,” ujar Ali.

Begitu juga di Pasar Genteng, Asak Maimunah menjual beras sekitar Rp16 ribu hingga Rp18 per kilogram dari harga normal Rp12 ribu per kilogram.

“Sepi. Pembeli sambat (mengeluh). Kadang beli beras hanya setengah kilogram,” ucapnya.**

Leave a reply