Ubi Ungu di Ponorogo Disulap Jadi Kue Cantik, Omzet Ratusan Juta

BI-Ubi ungu yang selama ini identik sebagai camilan rebus atau gorengan, kini naik kelas jadi aneka kue modern bernilai ekonomi tinggi. Di tangan seorang ibu rumah tangga asal Ponorogo, ubi ungu disulap menjadi berbagai sajian cantik dan sehat, mulai dari donat hingga pie, dengan omzet fantastis hingga ratusan juta rupiah per bulan.
Pelaku usaha tersebut adalah Emi Atikah, warga Jalan Parang Ukel, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan. Berawal dari melimpahnya ubi ungu di sekitar rumah yang dijual murah oleh petani, Emi melihat peluang usaha yang menjanjikan.
“Awalnya karena ubi ungu di sini sangat melimpah dan harganya terjangkau. Saya coba kreasikan jadi berbagai jenis kue supaya lebih bernilai,” kata Emi saat ditemui, Minggu (25/1/2026).
Beragam produk pun lahir dari dapurnya. Ada donat ubi ungu, kue lumpur, nona manis, pie ubi, hingga puding berbahan dasar ubi ungu. Prosesnya dimulai dari pengupasan, pencucian hingga pengukusan ubi, lalu dihaluskan dan dicampur bahan lain menjadi adonan berbagai jenis kue.
“Setelah matang, kami beri topping keju dan varian lainnya supaya tampilannya menarik dan rasanya lebih enak,” ujarnya.
Meski terbilang baru di pasaran, jajanan sehat ini langsung mendapat respons positif, terutama dari kalangan anak muda. Selain tampilannya yang menarik, bahan alami ubi ungu dinilai lebih sehat karena kaya serat dan antioksidan.
Salah satu pembeli, Shella Prasetia, mengaku ketagihan dengan olahan kue berbahan dasar ubi ungu tersebut.
“Rasanya beda, lebih enak dan alami. Manisnya terasa, santannya juga kerasa. Paling favorit itu nona manisnya, gurih dan lumer,” tutur Shella.
Tak hanya diminati masyarakat umum, produk kue Emi juga rutin dipesan oleh sejumlah rumah sakit di Ponorogo, baik untuk tenaga medis maupun pasien.
“Kami memang kerja sama dengan beberapa rumah sakit. Untuk pasien, biasanya kami sediakan kue yang variatif dengan bahan alami. Ubi ungu tinggi serat, jadi lebih sehat dan nilai nutrisinya juga lebih banyak,” jelas Emi.
Dalam sehari, Emi mengaku mampu memproduksi sedikitnya 1.500 buah aneka kue. Dengan harga jual mulai Rp 2.500 hingga Rp 3.500 per buah, omzet yang diraih per bulan disebut bisa menembus ratusan juta rupiah.
“Alhamdulillah, dari dapur rumah bisa berkembang seperti sekarang. Harapannya bisa terus berkembang dan membuka lapangan kerja untuk warga sekitar,” pungkasnya.***















