Dampak Konflik Timur Tengah Bakal Merembet ke Industri Makanan & Minuman

0
6

BI-Konflik di Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz mulai diwaspadai industri dalam negeri, termasuk sektor makanan dan minuman (mamin). Tekanan ke industri mamin bukan datang dari konsumsi energi, melainkan dari biaya logistik dan kenaikan harga kemasan plastik yang berbahan dasar minyak.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, industri mamin pada dasarnya bukan kelompok industri padat energi seperti kimia, logam, semen, maupun sektor manufaktur berat lainnya.

“Nah, yang kita energinya nggak begitu, sehingga dampak energinya nggak begitu banyak. Mungkin nanti di logistiknya, karena logistik ini berpengaruh pada semuanya,” kata Putu saat ditemui di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026).

ekanan yang lebih besar datang dari sisi kemasan. Putu mengatakan banyak produk mamin menggunakan kemasan plastik yang berbasis petroleum atau turunan minyak bumi. Ketika harga minyak dan bahan baku petrokimia naik akibat konflik, biaya kemasan untuk mamin ikut naik.

“Nah sebenarnya yang banyak ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Jadi kemasannya, itu biasanya dari plastik. Nah plastik ini adalah petroleum based plastic,” tuturnya.

Dampak kenaikan biaya kemasan ini tidak bisa dianggap kecil karena pada sejumlah produk, porsi biaya kemasan justru lebih besar dalam struktur harga. Ia mencontohkan air minum dalam kemasan (AMDK), di mana nilai kemasannya lebih dominan dibanding isi produknya.

Kondisi ini turut mempengaruhi ongkos produksi industri makanan dan minuman kemasan. Terkait potensi kenaikan harga, Putu menegaskan dampaknya belum langsung terasa saat ini karena produk yang beredar di pasar masih berasal dari stok yang sebelumnya sudah ada.

“Industri makanan dan minuman untuk hari Idulfitri ini, untuk Lebaran itu semuanya sudah terdistribusi, sudah aman lah itu nggak usah khawatir,” tegasnya.

Putu menyebut akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, mengingat industri plastik sebagai bahan baku kemasan berada di bawah sektor tersebut. Koordinasi juga dilakukan dengan GAPMMI serta pelaku industri kemasan untuk mencari langkah mitigasi.***

Leave a reply