Amran Endus Anomali Rantai Pasok Bikin Harga Telur Mahal

0
7

BI-Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menelusuri rantai pasok ayam dan telur dari hulu hingga hilir menyusul anomali harga yang merugikan peternak sekaligus membebani konsumen.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengidentifikasi penyebab kesenjangan harga dan menindaklanjuti dugaan praktik perdagangan yang tidak sehat, khususnya dari segmen rantai pasok. Lokasi peninjauan dilakukan breeding farm PT Widodo Makmur Unggas di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Di peternak itu [harga ayam] Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, tetapi di ujung harga ayamnya bisa Rp45.000 per kilogram. Telur juga demikian. Artinya, ada persoalan dalam rantai pasok yang harus kita cek dari hulu ke hilir,” kata Amran dalam keterangan resminya, Kamis (15/10/2026).

Amran menegaskan peninjauan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memahami kondisi industri perunggasan secara menyeluruh, mulai dari pembibitan hingga distribusi produk ke konsumen.

Apalagi, pemerintah tidak ingin peternak terus menanggung kerugian ketika masyarakat masih menghadapi harga pangan yang tinggi. Penelusuran dilanjutkan lewat pemeriksaan rantai perdagangan guna memastikan penyebab utama kesenjangan harga, sekaligus penguatan pengawasan praktik yang merugikan peternak dan konsumen.

“Tidak boleh permainkan konsumen dengan produsen. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita harus bela rakyat kita, peternak dan konsumen,” tegasnya.

Maksimalkan MBG

Amran mengatakan pemerintah juga memperkuat penyerapan dan biaya produksi. Dari sisi penyerapan, salah satunya lewat optimalisasi dari program makan bergizi gratis (MBG).

Pemerintah, kata dia, juga mendorong percepatan penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyediaan pakan melalui ID FOOD untuk membantu peternak memperoleh bahan baku dengan harga lebih terjangkau.

“Pemerintah akan terus mengawal agar peternak terlindungi, usaha tetap berjalan, dan kebutuhan masyarakat terpenuhi,” tutur dia.

Amran sebelumnya sempat mengungkapkan bahwa sekitar 4,8 juta peternak ayam dan telur dalam negeri terancam mengalami kebangkrutan akibat harga yang terus anjlok belakangan ini.

Hal ini ia sampaikan dalam rapat koorinasi pengendalian inflasi daerah 2026 edisi september bersama Kementerian Dalam Negeri di Jakarta hari ini, Senin (12/10/2026).

“Ini bangkrut ini Pak, orangnya berapa? 4,8 juta ini berteriak, bangkrut. Pemerintah, kita harus turun,” ujar Amran.

Peternak memiliki harga jual yang sangat rendah atau masih di bawah harga acuan pemerintah (HAP). Seperti diketahui, HAP khusus telur berkisar Rp20.000-Rp21.000/kg. Sementara, ayam berkisar Rp40.000-Rp45.000/kg.

Pada saat yang bersamaan, konsumen juga turut mengeluhkan harga beli yang cukup tinggi dari dua komoditas pangan tersebut. Amran lantas mengungkap kebingungan dari fenomena tersebut, yang membuat ribuan kalangan peternak juga sempat berdemonstrasi dalam beberapa waktu lalu.

Dia menduga adanya permainan dari perantara atau middleman yang berperan memainkan harga tersebut. Dia juga mengaku sudah melaporkan hal ini ke pihak penegak hukum.

“Ini anomalinya. Peternak berteriak, konsumen berteriak, produsen berteriak,” tutur dia.***

Leave a reply