Pengusaha Angkutan Modifikasi Mesin Respons Implementasi B50

0
11

BI-Pelaku usaha transportasi darat dan logistik di Jawa Timur telah melakukan sejumlah langkah antisipatif guna meminimalkan risiko pada mesin armada bus dan truk imbas penggunaan bahan bakar biodiesel B50.

Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Timur Firmansyah Mustafa mengungkapkan sebagian pengusaha bus di wilayah setempat telah melakukan modifikasi kecil pada saluran bahan bakar. Salah satunya adalah dengan memasang filter solar ganda guna mencegah penyumbatan akibat penggunaan B50 dalam jangka panjang.

”Jadi saat ini teman-teman di lapangan sudah memasang dua filter di bus mereka,” ucap Firmansyah.

Meskipun ribuan armada bus di Jatim belum mencatatkan kendala teknis sejak menggunakan B50, pihak asosiasi menilai langkah-langkah mitigasi tetap diperlukan sebelum terjadi gangguan teknis pada mesin kendaraan. Konsekuensinya, pengusaha harus merogoh kocek tambahan paling sedikit Rp200.000 per unit armada untuk pembelian filter tambahan tersebut.

”Bagaimanapun, campuran B50 ini lebih tinggi dibandingkan B40. Adanya campuran sawit, tetap akan meninggalkan sisa di mesin. Untuk itu, kami perlu jaga-jaga pakai dua filter. Meski harus menambah biaya perawatan,” katanya.

Strategi penyesuaian juga ditempuh oleh Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur. Alih-alih merombak kompartemen bahan bakar, para pengusaha truk memilih untuk memperpendek siklus penggantian filter solar.

”Kami memilih mengganti filter sebulan sekali. Dari sebelumnya dua bulan sekali,” ungkap Ketua DPD Aptrindo Jatim Sundoro.

Langkah percepatan penggantian komponen tersebut dilakukan guna memastikan aliran BBM ke ruang bakar tetap lancar, mengingat tingginya kandungan nabati pada B50 yang berpotensi mempercepat penumpukan kotoran pada filter bahan bakar.

”Kami pilih mengantisipasi dari awal. Keluar biaya lebih tinggi tidak apa-apa asalkan mesin kendaraan tidak rusak,” katanya.

Kendati memicu kenaikan beban biaya perawatan armada, Aptrindo Jatim menyambut positif jaminan pasokan B50 di lapangan.

Sundoro mencatat stok biosolar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) se-Jawa Timur saat ini jauh lebih stabil dan mencukupi kebutuhan operasional angkutan barang.

”Dibandingkan beberapa waktu lalu, pasokan biosolar saat ini lebih lancar. Dan ini sangat membantu kami,” katanya.

Adapun implementasi penyerapan B50 di Jawa Timur dilaporkan telah mencapai 100% di segenap SPBU per 1 Juli.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi memaparkan realisasi penyaluran B50 di Jatim sepanjang 1–20 Juli telah menembus 153.000 kiloliter (kl), dengan rata-rata konsumsi harian mencapai 7.850 kl.

Ahad menegaskan bahwa proses distribusi BBM berbasis campuran minyak sawit tersebut berjalan baik dan lancar tanpa kendala teknis yang dikeluhkan oleh konsumen.

”Belum ada keluhan hingga sejauh ini,” ujar Ahad.***

Leave a reply