Demo Sopir Truk di Surabaya: Tuntut Solusi Barcode BBM Subsidi dan Kemacetan Ketapang

BI-Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) menggelar aksi demonstrasi dengan membawa sekitar ratusan armada truk ke Surabaya, Rabu (30/9/2026).
Koordinator GSJT Supriyono menyebut aksi unjuk rasa tersebut adalah yang ketiga kalinya dilakukan pihaknya dalam menyuarakan berbagai persoalan yang tengah dihadapi pengemudi maupun para pelaku usaha di sektor logistik.
Sejumlah tuntutan dalam demonstrasi tersebut antara lain menyoroti kebijakan penggunaan barcode atau kode batang untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
Menurut dia, hingga saat ini masih terdapat pengemudi truk yang kode batang miliknya yang diblokir sehingga tidak dapat membeli BBM subsidi.
“Persoalan kami masih tetap sama berkaitan dengan barcode yang diblokir, yang kuotanya hilang, bahkan ada yang diblokir secara permanen,” ucap Supriyono.
Selain persoalan kode batang itu, GSJT juga menyoroti nasib pengemudi towing atau derek sebab regulasi yang belum jelas mengenai jenis kendaraan yang mereka kendarai tersebut masuk kategori car carrier atau memiliki klasifikasi yang tersendiri.
Kondisi tersebut, lanjut Supriyono, berefek pada pengemudi towing yang tidak dapat membeli BBM subsidi sehingga biaya operasional meningkat, sementara pendapatan mereka tetap terbatas.
“Karena hari ini mereka (pengemudi towing) tidak boleh isi BBM subsidi sehingga pengeluaran mereka lebih banyak, dan upah mereka lebih sedikit yang didapat,” ungkap dia.
Selanjutnya, GSJT juga meminta kejelasan dari Dinas Perhubungan Jawa Timur mengenai spesifikasi dan regulasi kendaraan angkutan barang.
Lebih lanjut, persoalan lain yang dibawa oleh massa aksi adalah besaran santunan bagi korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 oleh negara melalui PT Jasa Raharja (Persero).
Supriyono mengungkapkan banyak anggota aliansi sopir Jawa Timur yang menjadi korban dalam insiden nahas tersebut. Ia menilai santunan Rp50 juta yang diberikan kepada korban meninggal dunia perlu mendapat perhatian lebih, terutama bagi keberlangsungan hidup anggota keluarga yang ditinggalkan.
“Harapan kami itu akan ada subsidi ataupun ada semacam beasiswa bagi anak-anak yang ditinggal,” harap dia.
Tak hanya itu, massa aksi juga menyoroti persoalan kemacetan panjang yang terjadi di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
GSJT berharap para pemangku kebijakan dapat duduk bersama untuk membahas kemacetan yang disebutnya mencapai sekitar 20 kilometer.
Kemacetan parah tersebut juga berdampak pada biaya operasional pengemudi truk, mulai dari konsumsi solar yang di luar perhitungan awal hingga biaya hidup yang harus ditanggung selama terjebak antrean menuju Pulau Bali.
“Akhirnya menyebabkan kawan-kawan pengemudi truk khususnya itu melakukan pembengkakan biaya, solarnya lebih banyak, dan biaya hidup mereka lebih tinggi,” ucapnya.
Pada aksi kali ini, GSJT memproyeksikan sekitar 600 armada truk dan 800 peserta ikut terlibat. Massa berasal dari 28 kabupaten/kota di Jawa Timur, serta sejumlah daerah lain, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Jakarta, hingga Sumatra.***















