China Olah Tebu Jadi Minuman Fermentasi hingga Alat Makan

0
4

BI-Selama ini tanaman tebu dikenal sebagai bahan baku utama gula pasir. Namun di China, tanaman beruas tinggi ini disulap menjadi produk bernilai tambah yang kini menembus pasar ekspor, salah satunya minuman fermentasi.

Inovasi ini berpusat di Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China Selatan. Wilayah dengan iklim hangat dan lembap ini dikenal sebagai wilayah penanaman tebu terbesar di China dengan menyumbang 60% dari total produksi gula nasional selama bertahun-tahun.

Pada musim giling 2025-2026, luas lahan tanam tebu di Guangxi mencapai 12,34 juta mu atau setara 822.667 hektare (ha). Angka ini menjadi yang tertinggi dalam hampir satu dekade terakhir.

Dengan potensi tersebut, perusahaan-perusahaan berlomba untuk eksplorasi pemanfaatan lain pada tanaman tersebut, salah satunya produsen minuman, Hao Qing Chun, yang berkantor pusat di Kota Chongzuo.

Minuman Fermentasi

Perusahaan ini mengembangkan minuman fermentasi berbahan dasar tebu yang menghadirkan aroma buah yang lembut dengan sensasi rasa asam-manis yang menyegarkan di lidah.

“Gagasan untuk mengembangkan produk fermentasi, seperti cuka dan bir, berawal dari kesadaran konsumen yang kian meningkat terhadap pola makan sehat dan asupan gula,” ujar Manajer Umum Hao Qing Chun Biotechnology Co., Ltd, Lu Mingshan dikutip dari Xinhua, Kamis (22/10/2026).

Dengan memadukan teknik pembuatan cuka tradisional dan teknologi fermentasi modern, perusahaan ini sukses mengurangi kadar gula dalam air tebu segar lokal selama proses fermentasi, tetapi tetap mempertahankan kandungan zat besinya.

Produk minuman cuka ini tidak hanya dinikmati di pasar domestik China, tetapi juga sukses merambah pasar luar negeri seperti Vietnam dan Republik Korea. Tercatat, penjualan ekspor mencapai sekitar 20 juta yuan atau setara US$ 3 juta pada 2025. Lu menyebut nilai ini menyumbang sekitar sepertiga dari total penjualan perusahaan.

Guangxi memproduksi sekitar 60,93 juta ton tebu pada musim giling 2025-2026 dan menghasilkan sekitar 7,7 juta ton gula. Angka ini naik sekitar 19% secara tahunan.

Produk turunan, seperti tetes tebu (molasses) dan ampas tebu (bagasse) juga dimanfaatkan di berbagai industri. Di Chongzuo, lebih dari 200.000 ton tetes tebu setiap tahunnya diolah menjadi ragi kering aktif beraktivitas tinggi dan ekstrak ragi. Produk-produk ini dijual di lebih dari 160 negara dan wilayah.

Alat Makan

Sementara itu, ampas tebu diolah secara cerdas di Guangxi Ecolink Technology Co., Ltd menjadi wadah dan alat makanan hayati (biodegradable) yang ramah lingkungan. Wakil Manajer Umum Guangxi Ecolink Technology Co., Ltd Zhu Min menyampaikan setelah beroperasi penuh, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan 100.000 ton wadah dan perkakas makanan berbahan serat tanaman setiap tahunnya, dengan nilai output tahunan mencapai 1,5 miliar yuan.

Tak hanya itu, ampas tebu juga digunakan dalam industri pembuatan kertas dan pembangkit listrik biomassa. Tingkat pemanfaatan komprehensif dari ampas tebu dan tetes tebu di wilayah tersebut telah mencapai 100%.

Transformasi tebu tidak berhenti di produk hilir saja, sektor pariwisata juga turut disentuh. Pariwisata bertema tebu juga mulai berkembang di seluruh penjuru Guangxi, menciptakan peluang baru bagi masyarakat lokal.

Di Desa Buhua, Kota Xinhe, Chongzuo misalnya, para wisatawan dapat mencoba langsung proses pembuatan gula tradisional, mengaduk air tebu yang mendidih di dalam kuali besar menggunakan dayung kayu panjang. Mereka juga dapat mengikuti berbagai kegiatan lainnya, mulai dari menanam tebu hingga daur ulang dan pemanfaatan kembali produk sampingan.

Kota tersebut telah mengembangkan kawasan pariwisata pedesaan. Pada 2025, kawasan ini menarik lebih dari 500.000 kunjungan dan membantu lebih dari 600 rumah tangga lokal meningkatkan pendapatan tahunan mereka rata-rata sebesar 2.000 yuan.***

Leave a reply