Bahlil Ungkap CNG Merah Putih 3 Kg Bakal Digarap Bersama Pindad

0
16

BI-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proyek compressed natural gas (CNG) Merah Putih berkapasitas 3 kilogram (kg) rencananya akan digarap melalui kerja sama dengan BUMN pertahanan, PT Pindad (Persero).

Meski demikian, Bahlil menjelaskan proyek tersebut saat ini masih dalam tahap pengujian di China sebelum bisa dilanjutkan ke tahap realisasi di dalam negeri.

“Kita akan melakukan [kerja sama] dengan Pindad nanti, tetapi masih cek dahulu di sana [China]. Kalau sudah selesai, baru kita lakukan tindakan lebih lanjut,” ujar Bahlil kepada awak media usai menghadiri agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026).

Bahlil menambahkan tahap uji coba yang berlangsung di China menjadi krusial sebelum pemerintah memfinalisasi kerja sama teknis bersama BUMN terkait.

“Masih di China. Masih dilakukan uji coba di China. Habis itu kita melakukan kerja sama dengan perusahaan BUMN yang ada di sini,” tegasnya.

Langkah menggandeng PT Pindad juga dipandang sebagai strategi memanfaatkan kapabilitas manufaktur dan industri berat dalam negeri.

Untuk diketahui, PT Pindad tercatat memiliki pengalaman dalam memproduksi tabung khususnya tabung liquefied petroleum gas (LPG) untuk PT Pertamina (Persero), terutama dalam mendukung program konversi energi nasional.

Proses manufaktur tabung LPG ini dipusatkan di fasilitas produksi PT Pindad yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat.

Salah satu proyek besarnya tercatat mulai Januari 2015, Pindad mendapatkan target untuk memproduksi sekitar 2 juta tabung LPG ukuran 3 kg bagi Pertamina.

Kerja sama manufaktur dan pesanan ini berlanjut pada tahun 2019, Pindad kembali mengamankan pesanan minimal 1 juta tabung gas 3 kg untuk mendukung program konversi energi nasional.

Secara keseluruhan, lini produksi Pindad dibekali kapasitas manufaktur yang mampu menghasilkan hingga 300.000 tabung per bulan atau setara 3,6 juta tabung per tahun.

Sebelumnya, Bahlil juga telah mengungkapkan bahwa langkah transisi LPG ke CNG atau gas alam terkompresi berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp30 triliun.

Menurut Bahlil, harga CNG jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan LPG yang selama ini disubsidi oleh pemerintah. Efisiensi ini diharapkan dapat menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“[Hal] yang jelas harganya lebih murah 30% sampai 40% daripada LPG. Kalau 30%—40% sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 [triliun]. Kali rata-ratalah kalau katakanlah 25%, kali 30%, berarti kan [subsidi] Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi,” ujar Bahlil saat ditemui wartawan di kompleks Istana Negara, Senin (6/7/2026).

Bahlil menambahkan dana hasil efisiensi tersebut nantinya dapat dialokasikan untuk sektor pembangunan lain yang lebih produktif.

“Ini kan bisa kita bangun untuk yang lain-lain lagi gitu loh,” imbuhnya.***

 

Leave a reply