Inflasi Jatim Oktober 2026 Capai 3,09% (YoY), Penyumbang Kelompok Makanan

BI-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) di Jawa Timur sebesar 0,07% pada Oktober 2026. Selain itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat sebesar 2,14% dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) berada di angka 3,09%.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati menjelaskan kondisi cuaca di wilayah setempat yang belum memasuki musim hujan hingga Oktober 2026 memberikan tekanan pada pasokan dan harga komoditas pangan hortikultura, khususnya cabai dan tomat.
“Keterbatasan pasokan air dan kondisi cuaca yang tak mendukung berpengaruh signifikan terhadap produktivitas hasil panen petani,” ujar Herum dalam pemaparan berita resmi statistik BPS, Senin (2/11/2026).
Di sisi lain, Herum mengungkapkan dinamika berbeda terjadi pada sektor peternakan. Ketersediaan stok pasokan telur dan daging ayam ras sejatinya melimpah. Namun, penyerapan dan daya beli masyarakat yang belum mampu menyerap seluruh pasokan tersebut memaksa para peternak menurunkan harga jual.
“Jadi ketika supply-nya melimpah, kemudian konsumsinya tidak begitu meningkat juga sehingga ada oversupply. Ketika ada oversupply, ya hukum alam itu mengalami penurunan harga, tetapi itu biasanya juga temporer, nanti naik lagi [daya beli masyarakat],” ujarnya.
Secara bulanan (mtm), inflasi 0,07% terjadi di seluruh kabupaten/kota wilayah perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur. Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Kabupaten Jember sebesar 0,27%, sedangkan yang terendah berada di Kota Kediri yakni 0,01%. Di skala nasional, Herum menjelaskan sebanyak 33 dari 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi mtm pada Oktober 2026.
Pendorong utama inflasi bulanan Jatim datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,22% dengan andil sebesar 0,07%. Komoditas penopangnya meliputi cabai merah, cabai rawit, tomat, labu siam, serta ikan bandeng/ikan bolu.
“Sementara itu, komoditas yang menjadi penahan laju inflasi bulanan pada September adalah daging ayam ras, telur ayam ras, dan semangka. Sektor transportasi udara turut mencatatkan deflasi sebesar 1,81% dengan andil negatif 0,02%, didampingi komoditas emas perhiasan yang juga memberi andil negatif 0,02%,” bebernya.
Untuk inflasi tahun kalender (ytd), posisi 2,14% pada Oktober 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada Oktober 2025 yang sebesar 1,91%.
Herum menjelaskan Kota Madiun mencatatkan inflasi ytd tertinggi sebesar 2,54%, sedangkan Banyuwangi tercatat paling rendah sebesar 1,73%. Seluruh provinsi di Indonesia juga tercatat mengalami inflasi tahun kalender pada bulan Oktober.
Penyumbang utama inflasi ytd Jatim didominasi oleh kelompok transportasi dengan komoditas bensin dan angkutan udara, diikuti oleh bahan pangan seperti beras, daging sapi, serta minyak goreng. Sebaliknya, komoditas yang menahan laju inflasi tahun kalender pada Oktober meliputi telur ayam ras, bawang merah, kelapa, emas perhiasan, dan sepatu wanita.
Adapun inflasi tahunan (yoy) Jawa Timur yang sebesar 3,09% tercatat relatif lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi nasional. Inflasi tahunan pada Oktober terjadi di seluruh kabupaten/kota IHK Jatim, dengan angka tertinggi di Madiun sebesar 3,50% dan terendah di Banyuwangi sebesar 2,52%.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama penggerak inflasi tahunan di Jatim dengan kenaikan mencapai 4,70% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,30%.
Laju inflasi tahunan pada periode tersebut ditahan oleh penurunan harga pada komoditas telur ayam ras, bawang merah, kelapa, dan cabai merah. Sama halnya dengan inflasi tahun kalender, seluruh 38 provinsi di Indonesia tercatat mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026.****















