Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik

0
8

BI-Ketersediaan sapi siap potong di kandang penggemukan (feedlot) semakin terbatas.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga daging sapi tetap tinggi hingga beberapa bulan ke depan, terutama di tengah produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi mengatakan, stok sapi di feedlot saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar hingga sekitar November 2026.

Menurut dia, terbatasnya pasokan sapi siap potong menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga daging sapi di tingkat konsumen.

“Saat ini sudah banyak importir sapi yang angkat bendera putih,” kata Asnawi kepada Kontan.co.id, Minggu (30/8/2026).

Tekanan pasokan tersebut tercermin dari harga daging sapi yang telah berada di atas harga acuan pemerintah.

Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 23 Agustus 2026, rata-rata harga daging sapi di tingkat konsumen mencapai Rp 144.682 per kilogram (kg), lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 140.000 per kg.

Asnawi menjelaskan, keterbatasan pasokan sapi juga berkaitan dengan rendahnya konversi bobot ternak menjadi daging. Dari bobot hidup sapi, persentase karkas setelah penyembelihan hanya sekitar 48,2%.

Artinya, tidak seluruh bobot hidup sapi dapat menjadi daging yang siap dikonsumsi. Kondisi ini membuat kebutuhan sapi hidup menjadi jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional.

Ketergantungan Impor Masih Tinggi

Asnawi memperkirakan kebutuhan daging sapi nasional mencapai sekitar 756.000 ton per tahun.

Perhitungan tersebut mengacu pada jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dengan konsumsi daging sekitar 2,7 kg per kapita per tahun.

Dengan asumsi rata-rata bobot sapi siap potong sekitar 175 kg per ekor, kebutuhan sapi siap potong mencapai sekitar 4,3 juta ekor per tahun.

Menurut Asnawi, kapasitas produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bahkan, dia menilai porsi produksi domestik yang mampu memenuhi kebutuhan nasional perlu dikaji kembali.

“Pemerintah menyampaikan produksi dalam negeri mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan, tetapi menurut kondisi objektif di lapangan, angkanya perlu dikaji ulang. Kemampuan pasokan dalam negeri diperkirakan hanya sekitar 40%, sedangkan 60% sisanya harus dipenuhi melalui impor,” lanjut Asnawi.

Ketergantungan terhadap impor membuat harga daging sapi domestik sensitif terhadap perubahan kondisi pasar global.

Persaingan mendapatkan sapi dari negara pemasok seperti Australia juga semakin ketat karena negara lain kini menghadapi persoalan pasokan serupa.

“Saat ini kompetitor dari berbagai negara juga membutuhkan pasokan sapi dari Australia,” imbuhnya.***

 

Leave a reply