Harga Pangan Pascalebaran Turun, Namun Belum Merata

BI-Harga bahan pangan pascalebaran mulai menunjukkan tren penurunan, meskipun terjadi secara terbatas pada sejumlah komoditas tertentu.
Beberapa komoditas utama seperti beras dan minyak goreng justru masih mengalami kenaikan harga. Kondisi ini mengindikasikan bahwa proses normalisasi harga pangan pasca Hari Raya Idulfitri belum berlangsung merata di seluruh sektor.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia per Minggu (29/3/2026) pukul 08.15 WIB, penurunan harga terutama terjadi pada komoditas hortikultura dan protein hewani.
Harga cabai mencatat penurunan cukup signifikan. Cabai merah besar turun 7,4% menjadi Rp52.000 per kg, cabai merah keriting melemah 9,32% ke Rp51.100 per kg, dan cabai rawit merah turun 9,53% ke Rp84.500 per kg.
Selain itu, harga daging sapi kualitas 1 turun 1% menjadi Rp149.200 per kg, sedangkan kualitas 2 melemah 0,91% ke Rp140.900 per kg. Harga telur ayam ras juga turun tipis sebesar 0,15% menjadi Rp33.600 per kg.
Namun demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan. Cabai rawit hijau masih mencatat kenaikan 3,23% menjadi Rp60.650 per kg, yang mencerminkan pasokan yang belum sepenuhnya pulih di sejumlah daerah.
Tekanan harga juga masih terlihat pada komoditas pangan pokok. Harga beras medium I naik 0,13% menjadi Rp16.050 per kg dan medium II meningkat 0,12% ke Rp15.900 per kg. Sementara itu, beras premium naik hingga 0,3% ke kisaran Rp16.800–Rp17.250 per kg.
Kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng. Minyak goreng curah naik 0,76% menjadi Rp19.800 per kg, sedangkan minyak goreng kemasan premium dan sederhana masing-masing meningkat menjadi Rp22.950 dan Rp21.900 per kg.
Komoditas lainnya seperti bawang merah dan bawang putih turut mengalami kenaikan. Harga bawang merah naik 3,13% menjadi Rp46.100 per kg, sementara bawang putih naik tipis 0,12% ke Rp40.250 per kg. Daging ayam ras segar juga meningkat 1,16% menjadi Rp43.550 per kg.
Gula pasir tidak luput dari kenaikan. Gula lokal naik 0,53% menjadi Rp18.850 per kg dan gula premium naik 0,25% ke Rp20.050 per kg.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan bahwa pasokan pangan nasional masih dalam kondisi aman.
“Berdasarkan pantauan kami ke teman-teman pedagang hari ini, pasokan bapok kita seperti beras, minyak, cabai, dan lain-lain cukup. Masyarakat tidak perlu khawatir, apalagi membeli stok berlebihan karena ketersediaan bapok saat ini aman,” ujarnya dalam keterangan pers, dikutip Minggu (29/3/2026).
Lebih lanjut, Budi menyampaikan bahwa Kementerian Perdagangan terus melakukan pemantauan harga bahan pokok setiap hari, termasuk pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idulfitri.
Pengawasan ini dilakukan bersama pemerintah daerah melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) guna memastikan pasokan tetap terjaga dan harga terkendali di seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga mengandalkan distribusi melalui BUMN pangan untuk menjaga stabilitas harga. Upaya tersebut mencakup penyaluran beras SPHP, gula, serta minyak goreng MINYAKITA. Sekitar 35% distribusi MINYAKITA dialokasikan melalui Bulog dan ID Food.
Di sisi lain, pelaku pasar menilai bahwa pergerakan harga saat ini masih dipengaruhi faktor musiman pascalebaran.
Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, menyebut aktivitas pasar mulai mengalami penurunan setelah Lebaran.
“Setelah lebaran ini pasar relatif sepi, sehingga harga cenderung stabil,” ungkap Ngadiran saat dikonfirmasi Kontan, Minggu (29/3/2026).
Ia memperkirakan harga pangan akan relatif stabil dalam jangka pendek, setidaknya dalam sepekan ke depan, seiring aktivitas perdagangan yang belum sepenuhnya pulih. ****















