Bahlil Ungkap Uji Coba CNG 3 Kg Bakal Dua Kali, di RI dan China

0
31

BI-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pengujian tabung gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram (kg) akan dilakukan di dua tempat, yaitu di China dan Indonesia.

“Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya,” ungkap Bahlil di Istana Negara, Senin (18/5/2026).

Lebih jauh, Bahlil kembali menggarisbawahi CNG ukuran tabung 12 kg dan 20 kg sudah lebih dahulu dipasarkan di Indonesia.

“Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu [CNG 12 dan 20 kg] sudah jalan, tetapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat,” tambahnya.

Untuk pengujian CNG 3 kg ungkap Bahlil akan memfokuskan pada keamanan, mengingat daya tekan CNG yang lebih besar dibandingkan dengan gas jenis lainnya, seperti gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

“Nah, 3 kilogram ini daya tekanannya kan besar, 200—250 bar. Jadi ini harus dicek dahulu. Kalau sudah lolos uji, baru bisa kita,” ungkap Bahlil.

Sebagai pembanding, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, CNG memiliki tekanan cukup tinggi; yakni sekitar 200 hingga 250 bar (sekitar 3.000—3.600 psi), sehingga membutuhkan tabung yang sangat tebal dan kuat.

LPG memiliki tekanan jauh lebih rendah, berkisar 5 hingga 10 bar (untuk tabung rumah tangga) hingga maksimal sekitar 18—24 bar. Lalu, LNG memiliki tekanan yang paling rendah, umumnya hanya sekitar 2 hingga 10 bar.

Sebelumnya, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan teknologi untuk mengembangkan CNG tabung 3 kg saat ini dimiliki oleh China, sehingga terdapat potensi impor didatangkan dari Negeri Panda.

Laode juga memastikan impor tabung CNG 3 kg hanya dilakukan untuk program masifikasi CNG pada tahap awal, sebab teknologi tersebut masih belum dimiliki Indonesia.

“Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum. Akan tetapi, kalau skalanya sudah masif, bisa nanti kita alihkan ke dalam,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).

“Ya China. Banyak sih negara yang ini, tetapi kita sejauh ini China. Iya [ada potensi impor dari China], seperti itu. Tahap awal ya,” tegas dia.

Ihwal jumlah tabung yang dibutuhkan untuk menjalankan program masifikasi tahap awal, Laode menyatakan hal tersebut bakal diumumkan oleh Bahlil lebih lanjut.***

 

Leave a reply