Pengusaha Libya dan Tunisia Bidik Impor Produk Indonesai Usai Kunjungi Kadin Jatim

0
16

BI-Sejumlah pengusaha asal Libya dan Tunisia yang dipimpin Dede Achmad Rifai Kuasa Usaha Ad Interim/Minester KBRI Tripoli berkunjung ke Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim serta melakukan one on one business meeting dengan puluhan pengusaha Jatim.

Adik Dwi Putranto Ketua umum Kadin Jatim didampingi Prof. Tommy Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Jatim bidang promosi dan perdagangan Internasional, M Rizal WKU Kadin Jatim bidang Kontruksi dan sejumlah pengurus lainnya ikut hadir dalam kesempatan itu.

Dede Achmad Rifai mengatakan, kunjungan ini bertujuan untuk mempertemukan antara pengusaha Libya dan Tunisia dengan pengusaha Jatim agar bisa melakukan kerjasama perdangangan antar kedua belah pihak.

“Selain dengan pengusaha Libya yang hadir di ruangan ada juga yang ikut melalui zoom meeting secara visual,” ucapnya, Surabaya, Jumat (23/2/2024).

Ia juga menegaskan jika Libya adalah salah satu negara yang cukup potensial untuk dijadikan negara tujuan ekspor, karena dinilai lebih mudah dan tidak terlalu ketat seperti du Dubai, selain itu produk Indonesia juga sudah terdata sebagai produk Halal.

“Tarif bea disana sangat kecil, paling besar hanya 6 persen sehinggat sangat menguntungkan untuk ekspor kita, harga barang jadi lebih murah dan Libya menjdi hub untuk distribusi ke negara Timur Tengah dan Afrika,” tegasnya.

Pada tahun 2023 nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Libya mencapai Rp3 triliun dengan perincian ekspor Indonesia ke Libya mencapai US$ 147 juta dan Indonesia Tunisia mencapai Rp750 miliar, ditahun ini ekspor Indonesia ke Libya ditarget naik menjadi Rp3 triliun.

Komoditas ekspor yang dibutuhkan di Libya diantaranya adalah makanan dan minuman kaleng seperti tuna kaleng, kopi olahan, suku cadang mobil, kertas, alat kantor dan alat rumah tangga, furniture dan barang elektronik.

“Memang saat ini ada kendala di Laut Merah, sehingga pengiriman menjadi sangat mahal dan penerimaan barang dari Indonesia ke Libya menjadi mahal. Sebelum kasus Laut Merah, biaya pengiriman hanya mencapai US$ 2.500 per 20 feet, sekarang sudah mencapai US$ 6.000 per 20 feet sehingga ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Tetapi kami berharap, Ini cepat selesai sehingga target ekspor ke Libya bisa tercapai,” jelas Dede.

Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kadin Jatim mengatakan sangat senang dan mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada pengusaha Jatim untuk melakukan one on one business meeting dengan pengusaha Libya dan Tunisia.

“Saat ini permintaan dari pasar tradisional sudah turun, seperti pasar Amerika dan Eropa, sehingga kami mendorong pelaku usaha di Jatim untuk masuk ke pasar non tradisional seperti Afrika Utara atau Libya,”ujarnya.

Sekitar 40 pengusaha yang ikut dalam kegiatan “one one business meeting“. Pengusaha yang hadir ini adalah yang dibutuhkan oleh pengusaha Tunisia. Mereka bergerak di bidang furniture, tekstil, kopi, Mamin, interior, alat rumah tangga dan juga sepeda motor, ikan kaleng.

Wa’il Abdulaziz Shbash dari Alfosol Alarbaa Co. Libya mengatakan selama ini ia telah mengimpor bahan makanan dan cairan pembersih dari Indonesia sejak 20 tahun. Dan di Libya, produk Indonesia ini telah dikenal memilki kualitas bagus.

“Kualitasnya bagus dan bisa langsung cocok dipakai masyarakat. Insyaallah dengan kunjungan seperti ini kami ingin kerjasama menjadi lebih baik dan bisa mengimpor produk Indonesia lebih banyak lagi,” kata Wa’il Abdulaziz Shbash.

Keinginan yang sama juga diungkapkan oleh Imed Fakhfakh dari Galaxy Cirle Libya bahwa pihaknya telah mengimpor sparepart sepeda motor dari China sejak 20 tahun yang lalu tetapi setelah dikenalkan Dede Achmad Rifai pada produk dari Indonesia, ia mengaku ingin beralih.

“Kami ingin beralih impor barang dari Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, General Manager PT rangka Raya Milka Roh Utami mengatakan sangat senang telah diberi kesempatan untuk ikut mengikuti kegiatan ini karena bisa menawarkan produk yang kami punya. Ada berbagai produk yang display, diantaranya berbagai produk dari logam, cat dan lainnya.

“Selama ini kami telah melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia dan Filipina. Harapannya, dengan pertemuan ini kami bisa memperluas ekspor hingga ke Libya,” pungkasnya.**

Leave a reply