Bisnis Tempe dan Tahu Masih Prospektif dan Melegenda

BI-Bisnis tempe dan tahu di Indonesia terus menunjukkan peran penting sebagai penopang pangan masyarakat. Kedua produk berbahan dasar kedelai ini masih menjadi pilihan utama karena harganya terjangkau, kandungan gizinya tinggi, serta mudah diolah menjadi beragam menu makanan sehari-hari.
Melansir Sistem Informasi Data Tunggal-Usaha Mikro, Kecil, Menengah (SIDT-UMKM), per 31 Desember 2024 jumlah UMKM di Indonesia yang menjalankan usaha tempe mencapai 38.308. Jumlahnya memang lebih besar jika dibandingkan dengan UMKM yang menggeluti bisnis tahu sebanyak 20.313.
Usaha yang digeluti pebisnis tempe dan tahu ini pun terbilang langgeng karena bisa bertahan hingga puluhan tahun dan bisa diwariskan kepada generasi penerus. Salah satu buktinya, ada UMKM produsen tahu dan tempe yang sudah berproduksi di atas 50 tahun, didasarkkan pada data yang dimiliki oleh USSEC (U.S. Soybean Export Council) dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO).
Data tersebut dihasilkan setelah USSEC dan GAPKOPTINDO melakukan survei kepada 1.500 UMKM produsen tempe dan tahu di Jabodetabek, Bandung, dan Malang yang dilangsungkan selama tiga tahun. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, mayoritas industri tempe dan tahu yang dilakoni tersebut telah beroperasi selama 21-30 tahun. Posisi kedua telah dijalankan selama 11-20 tahun, dan yang ketiga selama 31-40 tahun.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelaku usaha tempe dan tahu menghadapi sejumlah tantangan, terutama fluktuasi harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama. Kenaikan harga kedelai berdampak langsung pada biaya produksi, sehingga sebagian perajin harus menyesuaikan ukuran atau harga jual agar usaha tetap berjalan. Meski demikian, permintaan pasar terhadap tempe dan tahu tetap stabil.
Di sisi lain, peluang pengembangan bisnis tempe dan tahu masih terbuka lebar. Inovasi produk mulai bermunculan, seperti tempe organik, tahu rendah lemak, hingga olahan siap saji yang menyasar konsumen modern. Kemasan yang lebih menarik dan higienis juga menjadi strategi untuk meningkatkan nilai jual produk di pasar ritel maupun digital.
Dukungan pemerintah dan berbagai pihak turut mendorong keberlangsungan usaha tempe dan tahu. Program pembinaan UMKM, akses permodalan, serta pelatihan peningkatan kualitas produksi diharapkan mampu membantu perajin bertahan dan berkembang di tengah tantangan pasar global.
Dengan konsumsi yang tinggi dan inovasi yang terus berkembang, bisnis tempe dan tahu di Indonesia diprediksi tetap memiliki prospek cerah. Kolaborasi antara perajin, pemerintah, dan pelaku pasar menjadi kunci untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.***















