‘Underconsumption Core’: Siasat Bertahan di Tengah Tekanan EkonomI

0
10

BI-Istilah “Underconsumption Core” kini menjadi topik tren yang mendominasi linimasa media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X di Indonesia.

Berbeda dengan tren aesthetic sebelumnya yang kerap memamerkan kemewahan (flexing) atau belanja barang mewah (gaya hidup maximalist), tren baru ini justru merayakan kesederhanaan dan kepuasan atas apa yang sudah dimiliki.

Para konten kreator ramai-ramai memamerkan barang-barang lama mereka yang masih berfungsi dengan baik, seperti botol minum yang sudah lecet namun tetap dipakai, koleksi kosmetik yang habis hingga ke dasar kemasan (hit the pan), hingga isi lemari pakaian yang minimalis tanpa baju baru.

Pergeseran Gaya Hidup atau Tuntutan Ekonomi?

Para pengamat ekonomi menilai bahwa Underconsumption Core bukan sekadar tren estetik di internet, melainkan sebuah respons pertahanan diri (survival mode) masyarakat kelas menengah akibat tekanan ekonomi riil.

Beberapa faktor makro yang mendorong masifnya gerakan ini antara lain:

• Penurunan Daya Beli: Terjadinya penurunan daya beli masyarakat yang dipicu oleh inflasi harga pangan yang terus merangkak naik sepanjang tahun 2026.

• Stagnasi Pendapatan: Kenaikan upah riil yang tidak sebanding dengan lonjakan biaya hidup harian di kota-kota besar.

• Ketidakpastian Lapangan Kerja: Maraknya gelombang efisiensi dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor industri, memaksa masyarakat untuk mempertebal tabungan darurat mereka daripada berbelanja hal yang konsumtif.

Dari sudut pandang finansial, tren ini dinilai sangat positif untuk kesehatan keuangan pribadi. Dengan menekan pengeluaran tersier (seperti bergonta-ganti gawai, ngopi mahal, atau membeli pakaian mengikuti fast fashion), masyarakat dapat mengalokasikan dana mereka ke instrumen investasi atau tabungan berjangka.

Selain manfaat finansial, gerakan ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Pengurangan konsumsi secara otomatis menurunkan jumlah limbah rumah tangga, sampah plastik, dan limbah tekstil yang selama ini menjadi masalah pelik di kota-kota besar di Indonesia.****

Leave a reply