Pengusaha Dukung Rencana Pemerintah Geber Industri Tekstil

0
7

BI-Pengusaha mendukung langkah pemerintah dalam penguatan industri tekstil dan garmen nasional. Langkah itu salah satunya dilakukan melalui revitalisasi supply chain.

Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto menilai perhatian Presiden Prabowo Subianto merupakan sinyal politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi keberlanjutan sektor padat karya tersebut.

Anne mengatakan, komitmen Presiden yang menempatkan industri garmen dan tekstil sebagai sektor strategis perlu diterjemahkan secara konkret oleh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan, regulasi, dan instrumen pelaksanaan yang nyata.

“Industri ini berperan vital dalam penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial-ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Terkait penekanan Presiden pada revitalisasi rantai pasok tekstil, AGTI menilai penguatan supply chain perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Rantai pasok tekstil Indonesia yang panjang membutuhkan kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah industri nasional secara berkelanjutan.

Menurut Anne, penguatan industri hulu dalam negeri menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis. Namun, selama kapasitas nasional belum mencukupi, impor bahan baku tetap diperlukan agar proses produksi tidak terhambat.

“Impor bahan baku bagi produsen yang patuh aturan perlu berjalan cepat dan efisien agar daya saing industri tetap terjaga,” kata Anne.

AGTI juga memandang program hilirisasi yang dibahas Presiden sebagai kunci peningkatan nilai tambah industri tekstil dan garmen. Dengan rantai pasok yang panjang, hilirisasi dinilai mampu memperkuat kemandirian industri sekaligus menjaga kontribusi sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja dan penggerak ekonomi nasional.

Pasca rapat terbatas di Hambalang, AGTI berharap arahan Presiden Prabowo segera ditindaklanjuti melalui kebijakan konkret, termasuk deregulasi, debirokratisasi perizinan, penyediaan energi yang kompetitif, serta dukungan fiskal dan pembiayaan.

“Dengan kebijakan yang terintegrasi, industri garmen dan tekstil dapat kembali meningkatkan daya saing dan memperkuat posisinya sebagai tulang punggung manufaktur padat karya nasional,” kata Anne.

Dikutip dari Instagram Sekretariat Kabinet, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di kediamannya di Hambalang pada Minggu 11 Januari 2026. Pada pertemuan itu dibahas berbagai hal di antaranya mengenai industri tekstil dan garmen.

“Bapak Presiden meminta untuk dilakukannya penguatan dalam industri tekstil/garmen, salah satunya adalah dengan melakukan revitalisasi rangkaian supply chain,” bunyi keterangan Sekretariat Kabinet.***

Leave a reply