Bank Jatim: Kredit di Jawa Timur Masih Berprospek Tahan Goncangan Geopolitik Global

BI-PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (Bank Jatim) mengatakan pertumbuhan kredit di Jawa Timur masih memiliki prospek di tengah ketidakpastian geopolitik global.
RM Wahyukusumo Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim mengatakan hal itu didorong jenis industri yang berkembang di Jawa Timur.
“Kredit-kredit tadi yang masih berprospek bahwa di Jawa Timur ini industrinya ini sangat resiliens ya. Kalau dibandingkan dengan industri-industri di daerah-daerah lain. Kita kan banyak industri-industri seperti sifatnya consumer goods, food and beverage dan sebagainya ya,” kata Wahyukusumo di Hotel Discovery SCBD Jakarta, Senin (30/3/2026).
Wahyukusumo juga mengingatkan posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional yang menambah ketahanan.
“Sebagai lumbung pangan nasional, pertanian di Jawa Timur itu pertanian, peternakan itu rata-rata akan menjadi penyuplai nasional, baik di pertanian padi, kemudian peternakan, ayam, sapi, susu dan sebagainya. Ini artinya bahwa potensi di Jawa Timur untukmpotensi kredit itu masih terprospek,” ujarnya.
Meski begitu, Direktur Keuangan Bank Jatim tidak memungkiri gejolak geopolitik global pasti berpengaruh pada sektor perbankan, tidak terkecuali di Jawa Timur.
“Geopolitik ini memang itu suatu suatu apa keniscayaan ya, hampir semua perbankan juga mengalami hal-hal tersebut ya. Tapi mungkin kita itu terpaparnya kalau Bank Jafri tidak terlalu sesignifikan beberapa bank yang ada berorientasi terhadap hubungan ee ekonomi dengan luar negeri, misalnya ekspor-impor dan sebagainya,” imbuhnya.
Katanya Bank Jatim lebih fokus membantu dan memberikan kredit terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sehingga tidak hanya prospek kreditnya yang menguat, tetapi kondisi ketahanan di Jawa Timur juga kuat.
“Playing field kita ini kan di consumer dan kredit-kredit mikro kecil ya. Memang nanti ada dampaknya juga di mikro kecil, dengan penguatan-penguatan kondisi resiliens-nya Jawa Timur sebagai lumbung pangan. Insyaallah kalau pangan ini mau geopolitik, mau apa tetap pasti dibutuhkan,” pungkasnya.
Bank Jatim memiliki strategi untuk menghadapi dinamisnya kondisi ekonomi, yaitu dengan melakukan penyaluran pinjaman yang lebih selektif pada sektor prospektif dengan paralel memperdalam penetrasi bisnis kredit konsumer, disiplin dalam pengaturan untuk pos pendapatan dan beban melalui efisiensi dan peningkatan transaksi digital untuk meningkatkan pendapatan non bunga, serta agresif mengendalikan kualitas aset agar sesuai dengan risk appetite.
Di mana angka penyaluran kredit Bank Jatim (Bank Only) yang berhasil tumbuh konservatif sebesar 4,98 persen (year on year) atau Rp 67,24 triliun tersebut, komposisinya terdiri dari kredit konsumer Rp 36,54 triliun atau meningkat 6,20 persen (yoy) dan kredit produktif sebesar Rp 30,7 triliun atau meningkat 3,55 persen (yoy).***















