Buah Sinergi Pemerintah dan BI: IHSG Menghijau, Rupiah Menguat

0
11

BI-Penguatan signifikan yang terjadi pada pasar keuangan Indonesia menjadi sinyal mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Dikutip dari data BEI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 7,57 persen ke level 5.746 pada perdagangan Selasa (9/6). Saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat ke posisi 18.050 per USD. Rupiah tercatat terapresiasi 120 poin atau 0,66 persen dibandingkan posisi pembukaan pagi hari yang berada di level 18.170 per USD.

Penguatan serentak di pasar saham dan pasar valuta asing ini tidak terlepas dari berbagai langkah terkoordinasi yang ditempuh pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengembalikan sentimen positif pelaku pasar. Apa saja?

Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbasis rupiah melalui penguatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menarik arus modal asing masuk (capital inflow), memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri, serta mengantisipasi risiko keluarnya modal dari pasar domestik di tengah meningkatnya imbal hasil surat utang global.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga SRBI. Pada 13 Mei lalu, suku bunga SRBI tenor enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan masing-masing dinaikkan menjadi 6,21 persen, 6,31 persen, dan 6,45 persen.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan mencatat tingkat imbal hasil SBN tetap terjaga stabil pada awal Juni. Yield SBN berdenominasi rupiah berada di level 6,67 persen, sedangkan SBN berdenominasi dolar AS tercatat sebesar 5,42 persen.

Kedua, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Pemerintah dan Bank Indonesia sepakat memperkuat pengelolaan likuiditas melalui pengelolaan kas pemerintah, dengan tetap memberikan tingkat bunga yang lebih menarik kepada pemerintah.

Ketiga, Bank Indonesia juga memperkuat bauran kebijakan moneternya. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada 9 Juni 2026, BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Bank Indonesia menjelaskan kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Selain itu, kenaikan suku bunga juga bertujuan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menilai sinergi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam memulihkan keyakinan pasar.

“Tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah,” tutur Purbaya, dikutip Rabu (10/6).

Fundamental Ekonomi RI Masih Kokoh

Penguatan IHSG dan apresiasi rupiah pada perdagangan menunjukkan respons positif investor terhadap keseriusan pemerintah dan otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

Perlu diketahui, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih kokoh meski berada di tengah gejolak geopolitik global.

“Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis,” ujar Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat.

Lebih lanjut, Firman merinci sejumlah indikator yang mencerminkan kokohnya fundamental ekonomi domestik.

Ia mengatakan bahwa Indonesia masih membukukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yakni mencapai 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.

Selain itu, Firman juga menyoroti inflasi Indonesia yang relatif stabil, yakni sebesar 3,08 persen secara tahunan pada Mei 2026.***

Leave a reply