10 Perusahaan Beri Sinyal Mau PHK 3 Bulan Lagi, Kemnaker Buka Suara

BI-Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) buka suara soal laporan serikat pekerja terkait potensi PHK imbas perang di Timur Tengah. Serikat Pekerja melaporkan adanya potensi PHK dalam tiga bulan ke depan oleh 10 perusahaan.
Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan informasi lebih dalam terkait isu tersebut demi merumuskan kebijakan yang pas.
“Ya kami terus kumpulkan informasi-informasi tersebut, dan kami akan kaji dan analisis untuk pengambilan kebijakan yang pas,” ujar Cris di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Jakarta Pusat, Rabu (29/4/2026).
Terkait laporan PHK kepada Kemnaker, Cris membenarkan ada beberapa perusahaan yang mengadu. Namun, ia tidak merinci berapa jumlah perusahaan yang melakukan audiensi.
Cris hanya menjelaskan beberapa sektor seperti industri plastik dan gas terbebani dengan gejolak geopolitik yang ada. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah menyebabkan lonjakan harga energi yang turut berdampak pada industri Indonesia.
“Ada beberapa (laporan). Lebih ke yang plastik sih, termasuk gas ya,” tutur Cris.
Ancaman PHK
Sebelumnya, serikat pekerja mengingatkan soal ancaman PHK yang bisa terjadi dalam tiga bulan ke depan. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan ada sekitar 10 perusahaan yang mulai ancang-ancang melakukan PHK.
Meski belum terjadi PHK, perusahaan-perusahaan tersebut disebut mulai mengajak pekerja berdiskusi terkait potensi pengurangan tenaga kerja dalam tiga bulan ke depan.
“Jadi berdasarkan laporan dari anggota KSPI di tiket pabrik ya, kita kan punya anggota di pabrik, bahwa mereka sudah mulai diajak ngomong lah, belum melakukan PHK baru diajak ngomong, kalau perang tetap berlanjut, maka tiga bulan ke depan ini pasti ada potensi PHK,” kata Said Iqbal saat dihubungi detikcom, Selasa (14/4/2026).
Secara keseluruhan, 10 perusahaan tersebut, memiliki jumlah karyawan mencapai 9.000 pekerja. Perusahaan-perusahaan itu tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, serta sebagian di Banten dan Jawa Tengah.****















