Harga Pertamax Tak Turun, Pakar Migas Sebut demi Kas Pertamina

0
12

BI-Harga BBM nonsubsidi turun, namun publik bertanya mengapa Pertamax Ron 92 harganya tidak turun mengikuti yang lain?

“Pertamax konsumsinya 12 juta kl/tahun. Jadi kalau harga diturunkan terlalu cepat, akan sangat mengganggu cash flow Pertamina. Harga BBM nonsubsidi high grade sebenarnya juga belum saatnya turun. Namun, karena jumlah [konsumsi]-nya kurang dari 5%, untuk ‘pencitraan niat baik’ mungkin diturunkan,” kata Hadi ketika dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Dia menegaskan Pertamina selaku badan usaha milik negara (BUMN) memiliki tugas untuk menjaga ketahanan energi nasional, sehingga membutuhkan kelancaran arus kas untuk berkompetisi dalam pengadaan komoditas migas di dunia.

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi harga keekonomian Pertamax mencapai Rp16.444/liter, jika mengacu pada formulasi penetapan harga serta dinamika harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Josua mencatat realisasi harga minyak mentah Brent sepanjang tahun berjalan di sekitar US$87,9/barel dan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan sebesar Rp17.195/US$.

Dari besaran tersebut, dia mengalkulasi harga keekonomian Pertamax atau bensin RON 92 sekitar Rp16.444/liter alias memiliki selisih sekitar Rp194/liter, dibandingkan dengan harga Pertamax periode Juni 2026 sebesar Rp16.250/liter.

“Dengan asumsi rata-rata Brent sepanjang tahun berjalan US$87,9/barel dan rata-rata USD/IDR Rp17.195, perhitungan interpolasi dalam dokumen menunjukkan harga keekonomian Pertamax atau bensin RON 92 sekitar Rp16.444/liter,” kata Josua.

Dia memandang jika dasar penyesuaian harga pada periode Juli 2026 masih memakai rata-rata sepanjang tahun berjalan, belum terdapat ruang besar untuk harga Pertamax turun pada Juli 2026.

Adapun, Pertamina resmi menyesuaikan sejumlah harga BBM pada Rabu (1/7/2026). Harga BBM RON 92 atau Pertamax tetap ditahan Pertamina seharga Rp16.250/liter, usai mengalami kenaikan dari Rp12.300/liter pada 10 Juni.

Di sisi lain, harga BBM RON 98 atau Pertamax Turbo turun Rp1.450 menjadi Rp19.300/liter dari harga bulan sebelumnya Rp20.750/liter.

Bensin bioetanol RON 95 atau Pertamax Green 95 masih ditahan oleh Pertamina seharga Rp17.000/liter.

BBM jenis diesel atau solar nonsubsidi Pertamina juga terpantau mengalami penurunan harga. Pertamina Dex saat ini dibanderol Rp21.150/liter atau turun Rp3.650 dari harga bulan sebelumnya Rp24.800/liter.

Selanjutnya, Dexlite saat ini dijual Rp19.700/liter atau turun Rp3.300 dari harga pada Juni Rp23.000/liter.

Adapun, harga BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Solar tak mengalami penyesuaian harga, masing-masing dibanderol sebesar Rp10.000 dan Rp6.800.

Sekadar informasi, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap tanggal 1, mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Pada 10 Juni 2026, Pertamina menaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter atau naik sekitar 32%, usai ditahan selama beberapa bulan.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun sempat mengonfirmasi negara bakal memberikan kompensasi energi atas selisih nilai keekonomian Pertamax dengan harga jualnya, usai perseroan menahan harga bensin RON 92 nonsubsidi tersebut sejak 1 April 2026.

Roberth mengungkapkan harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter. Namun, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter sejak April.

Roberth mengungkapkan perseroan bakal menanggung selisih harga jual dan keekonomian Pertamax terlebih dahulu. Setelah itu, pemerintah bakal membayarkan kompensasi energi dengan besaran yang bakal didiskusikan dan dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.

“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan.”***

Leave a reply