Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim-Riau, Transaksi Tembus Rp1,06 Triliun

0
10

BI-Pemerintah Provinsi Jawa Timur berhasil membukukan komitmen transaksi fantastis senilai Rp1,06 triliun dalam Misi Dagang dan Investasi Provinsi Jawa Timur dengan Provinsi Riau yang digelar di Pekanbaru, Rabu (8/7/2026). Capaian ini tercatat melonjak hampir tiga kali lipat bila dibanding realisasi kerja sama kedua daerah pada 2020 silam.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan nilai transaksi tersebut terdiri atas penjualan komoditas asal Jatim sebesar Rp704,88 miliar dan pembelian dari Provinsi Riau senilai Rp361,15 miliar.

“Misi dagang di Riau ini menjadi pelaksanaan yang kelima sepanjang tahun 2026. Yang selalu kami bangun adalah penguatan kemitraan antarprovinsi demi memperkuat rantai pasok antardaerah serta mendorong pasar domestik yang terintegrasi,” ujar Khofifah dalam keterangan resmi, Kamis (9/7/2026).

Seperti diketahui, nilai transaksi tahun ini melonjak tajam dari capaian Misi Dagang dan Investasi Jatim-Riau pada 5 Maret 2020, yang saat itu menghasilkan komitmen transaksi Rp362,12 miliar melalui 51 transaksi dagang.

Berdasarkan data yang dihimpun, transaksi terbesar dalam agenda ini dipimpin oleh sektor peternakan dan olahan pangan. PT Kharim Mandiri Indonesia asal Kota Kediri menyepakati kontrak dengan PT Unggas Riau Perkasa dari Kabupaten Kampar senilai Rp202,19 miliar per tahun untuk pasokan olahan daging, susu, hingga bibit ayam (DOC).

Selanjutnya, PT Ayo Tani asal Kabupaten Kediri menyepakati dua kontrak sekaligus di sektor pangan, masing-masing dengan PT Riau Multi Trade senilai Rp108,5 miliar dan PT Riau Pangan Bertuah sebesar Rp101,4 miliar untuk komoditas beras, bawang merah, cabai, dan gula merah.

Sektor industri tembakau juga mencatatkan angka signifikan lewat komitmen Pabrik Rokok Dian Mulyo, Kabupaten Trenggalek dengan mitra lokal Riau, Kholis Romli senilai Rp79,2 miliar. Sementara di sektor perikanan, PT Suri Tani Pemuka dari Sidoarjo membukukan transaksi pakan ikan dan benur senilai Rp71,11 miliar dengan PT Anagi Mandiri Sejahtera asal Kampar.

Khofifah mengakui neraca perdagangan Jawa Timur secara historis kerap mengalami defisit dengan Provinsi Riau. Hal tersebut dipicu oleh tingginya ketergantungan industri manufaktur Jatim terhadap bahan baku asal Riau.

“Kebutuhan pulp (bubur kertas) di Jawa Timur sangat tinggi, dan hampir 99% pasokannya berasal dari Provinsi Riau. Secara total perdagangan antarwilayah pada 2024, nilai transaksi kedua provinsi mencapai Rp9,43 triliun dengan defisit neraca perdagangan di pihak Jatim sebesar Rp8,91 triliun,” papar Khofifah.

Namun begitu, mantan Menteri Sosial RI tersebut menyatakan defisit tersebut justru menunjukkan hubungan ekonomi yang solid antar kedua wilayah. Menurut dia, sinergi tersebut menjadi ruang untuk mendorong perdagangan dua arah yang lebih berimbang lewat ekspansi komoditas pangan, pupuk dolomit, hingga bibit sapi Madura ke Sumatra.

“Kondisi tersebut justru menunjukkan betapa kuatnya keterhubungan ekonomi kedua provinsi sekaligus besarnya peluang untuk terus memperluas perdagangan dua arah yang semakin seimbang,” katanya.

Di hadapan para pelaku usaha dan jajaran Pemprov Riau, Khofifah juga memaparkan kinerja ekonomi Jawa Timur yang menunjukkan tren positif. Pada Triwulan I/2026, ekonomi Jatim tercatat tumbuh 5,96% secara tahunan (year-on-year), di mana angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, Jatim juga mempertahankan kedudukannya sebagai kontributor utama perekonomian di Pulau Jawa dengan porsi 25,16% serta menyumbang 14,40% terhadap perekonomian nasional. Sektor industri pengolahan masih menjadi motor penggerak dengan kontribusi 31,45%, disusul perdagangan 18,77%, dan pertanian 10,51%.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi menyambut baik perluasan pasar ini. Menurut dia, Misi Dagang Jatim-Riau menjadi momentum strategis bagi pelaku usaha lokal untuk dapat masuk ke dalam rantai pasok nasional yang lebih ekspansif.

“Kami optimistis hubungan ekonomi kedua provinsi akan semakin erat, tidak hanya pada peningkatan nilai transaksi, tetapi juga membuka peluang investasi baru yang berkelanjutan,” ujarnya.***

Leave a reply