Indonesia Punya Harta Karun Mineral Kritis Teknologi Global

0
6

BI-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap cadangan zirkon yang melimpah di Indonesia, menyimpan mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi global, mulai dari pesawat tempur hingga baterai kendaraan listrik. Sayangnya, potensi besar industri hilirisasi mineral tersebut belum tergarap optimal.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN Herry Poernomo mengatakan, pasir zirkon dari delapan wilayah di Indonesia tidak hanya mengandung zirkonium, tetapi juga menyimpan mineral ikutan strategis seperti titanium, unsur tanah jarang ringan (LREE), unsur tanah jarang berat (HREE), hingga uranium dan torium.

“Ini bukan kelemahan, ini adalah kekuatan tersembunyi. Semua unsur ini adalah komoditas kritis yang sangat dibutuhkan industri teknologi tinggi global,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Bisnis, Minggu (24/5/2026).

Herry, hasil riset BRIN menemukan kandungan titanium oksida (TiO₂) tertinggi mencapai 38,58% pada pasir zirkon asal Ketapang. Sementara itu, total oksida tanah jarang ditemukan hingga 11,27% pada sampel zirkon dari Bangka.

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki fondasi kuat untuk membangun industri pemurnian titanium dan tanah jarang di dalam negeri. Titanium, lanjut Herry, merupakan logam ringan super kuat yang digunakan di industri dirgantara, alat medis, hingga kapal selam.

Adapun unsur tanah jarang saat ini menjadi bahan baku penting untuk magnet permanen pada kendaraan listrik dan turbin angin, sekaligus digunakan dalam berbagai komponen otomotif, pesawat terbang, hingga perangkat komunikasi.

Selama ini, kata Herry, unsur-unsur tersebut masih ikut terbawa dalam ekspor pasir zirkon mentah sehingga nilai tambahnya belum optimal dinikmati di dalam negeri.

“Ke depan, dengan teknologi yang tepat, kita bisa memisahkan dan memurnikan semuanya di dalam negeri. Nilai tambahnya bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat,” tegasnya.

Herry memaparkan, sekitar 54% produk turunan zirkon digunakan untuk industri keramik berkualitas tinggi, seperti lantai, dinding, dan perlengkapan kamar mandi. Selain itu, sekitar 14% digunakan pada industri pengecoran logam, termasuk cetakan sudu turbin jet yang tahan panas hingga 1.650 derajat Celcius.

Kemudian, sebanyak 13% dimanfaatkan untuk bahan tahan api atau refraktori pada tungku peleburan kaca. Adapun sekitar 12% digunakan untuk bahan antiperspiran, penyamakan kulit, tekstil anti air, hingga komponen reaktor nuklir. “Sisanya sekitar 2% digunakan untuk industri amplas dan abrasif,” sebut Herry.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia menduduki peringkat keempat hingga kelima sebagai penghasil zirkon terbesar di dunia. Posisi ini bisa menjadi modal awal yang sangat kuat untuk mendorong industri pemurnian.

Namun disayangkan, posisi Indonesia sebagai produsen besar belum cukup tanpa penguasaan teknologi pengolahan mineral secara mandiri. “Sudah saatnya Indonesia melangkah lebih jauh menjadi bangsa yang kuat dengan menguasai teknologi pengolahan sumber daya alamnya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman menyampaikan, BRIN saat ini tengah mengembangkan teknologi pengolahan zirkon yang modern, efisien, dan memenuhi standar keselamatan tinggi. Zirkon juga berpotensi dikembangkan menjadi material maju, termasuk untuk teknologi sel surya.

Dia menegaskan hilirisasi zirkon tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian riset nasional dan mengurangi ketergantungan impor. “Kini saatnya Indonesia membangun ekosistem industri mineral yang berdaulat, aman bagi lingkungan, dan berdaya saing global,” pungkasnya.***

Leave a reply