Ekspor Jatim Menurun, Impor Meningkat

0
6

BI-Ekonomi Indonesia tengah terdampak gejolak perekonomian global. Termasuk di antaranya ekonomi di Jawa Timur. Nilai ekspor pada periode Januari-Maret 2026 mengalami pelemahan sedangkan impor justru meningkat.

Berdasarkan data BPS Jatim pada 4 Mei 2026, nilai ekspor Jawa Timur periode Januari-Maret 2026 mencapai 6,07 miliar USD, turun 1,00% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sedangkan nilai impor justru naik 4,62% menjadi USD7,32 miliar, sehingga neraca perdagangan Jawa Timur tercatat mengalami defisit sebesar USD1,24 miliar.

“Januari sampai Maret 2026 ekspor kita (Jatim) USD6,07 miliar. Sementara impor kita USD7,32 miliar. Artinya kita defisit kurang lebih USD1,3 miliar,” kata Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Erivina Lucky Kristian kepada detikJatim, Senin (25/5/2026).

Meski terjadi pelemahan, Lucky menyebut nilai ekspor Jatim masih dalam batas stabil karena penurunan yang tidak terlalu signifikan.

“Kalau kita relatif stabil sebenarnya. Tapi Impor kita sangat luar biasa. Nah, impor kita itu biasanya ya untuk bahan baku,” ujarnya.

Lucky mengatakan banyaknya defisit Jatim akibat sejumlah faktor. Paling banyak adalah migas, karena di Jatim hampir semua migas yang ada berasal dari impor. Sementara nilai impor mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 4,62% menjadi USD7,32 miliar. Peningkatan ini tak lepas dari kebutuhan cukup tinggi dari luar negeri.

“Kita ini migas banyak yang impor. Yang kedua, bahan baku kita itu 76% itu dari impor semua, baik bahan baku maupun bahan penolong,” jelasnya.

Ada pun 10 komoditas impor nonmigas terbesar di Jatim selama Januari-Maret 2026 yakni mesin dan peralatan mekanis senilai USD736,34 juta, perhiasan dan permata senilai USD 680,74 juta, ampas/sisa industri makanan (bungkil kedelai) senilai USD376,20 juta, plastik dan barang dari plastik senilai USD362,25 juta, besi dan baja USD356,22 juta.

Lalu buah senilai USD337,85 juta, pupuk senilai USD291,82 juta, serelia senilai USD276,20 juta, mesin dan perlengkapan listrik senilai USD226,97 juta, dan tembakau dan rokok senilai USD226,96 juta.

Sedangkan 10 komoditas ekspor non migas terbesar di Jatim di selama Januari-Maret 2026 yakni perhiasan senilai USD675,43 juta, lemak dan minyak hewan/nabati senilai USD620,13 juta, tembaga senilai USD592,93 juta, kayu dan barang dari kayu senilau USD370,70 juta, lalu ikab, krustasea dab moluska senilai USD282,74 juta.

Selanjutnya, bahan kimia organik senilai USD282,74 juta, berbagai produk kimia senilai USD270,73 juta, tembakau dan rokok USD265,41 juta, olahan ikan, krustasea dan moluska senilai USD206,16 juta, dan kerta/karton senilai USD203,32 juta.

“Menariknya, perhiasan kita, orang bilang kita penghasil emas, tapi impor kita atas bahan logam mulia juga sangat tinggi,” katanya.

Mengantisipasi kemungkinan gejolak yang terus berkepanjangan, Pemprov Jatim melakukan upaya seperti membuka pasar baru. Salah satunya menyasar kawasan Afrika yang selama ini belum banyak disasar namun potensinya cukup besar. Termasuk melakukan misi dagang maupun melalui pameran-pameran di luar negeri.

“Kita berupaya untuk lebih meningkatkan lagi perdagangan kita di masa-masa mendatang. Kita ada misi dagang, kita juga ikut pameran di negara-negara lain,” pungkasnya.***

Leave a reply