BI Jatim Perkuat Kemandirian Ekonomi 80 Pesantren

0
7

BI-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur terus memperkuat kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui pembinaan usaha produktif, penguatan tata kelola, digitalisasi, hingga perluasan akses pasar. Hingga 2026, BI se-Wilayah Jawa Timur telah membina 80 pondok pesantren dengan 112 unit usaha dari berbagai sektor sebagai bagian dari pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berkelanjutan.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, mengatakan pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat karena didukung lahan, sumber daya manusia, jaringan alumni, serta pasar internal yang kuat. Oleh karena itu, BI menerapkan pembinaan secara terintegrasi mulai dari peningkatan kapasitas SDM, pemanfaatan teknologi pertanian, penguatan kelembagaan usaha, hingga perluasan akses pemasaran.

“Apabila potensi tersebut dikelola secara produktif, pesantren tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi dan stabilitas pasokan pangan di daerah,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jumat (7/8/2026).

Menurut Rifki, pendampingan tidak berhenti pada pemberian bantuan, melainkan dilanjutkan melalui pemantauan berkala terhadap perkembangan usaha, pemanfaatan sarana produksi, hingga pemasaran. Monitoring dilakukan melalui komunikasi langsung dan pelaporan pada Sistem Informasi Pelaku Usaha Syariah Bank Indonesia (SIPUSBI), sehingga berbagai kendala dapat segera ditindaklanjuti melalui pendampingan lanjutan.

Salah satu pesantren binaan yang dinilai berkembang adalah Pondok Pesantren Annuqayah. BI memberikan dukungan terhadap pengembangan sektor pertanian dan usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek SUCI melalui penyediaan mesin combine harvester dan mesin pengisi galon otomatis untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Rifki menjelaskan, pemanfaatan mesin panen modern tersebut mampu menekan biaya panen sekitar 5 persen sekaligus membantu kelompok tani di sekitar pesantren. Sementara itu, unit usaha AMDK SUCI telah memiliki kapasitas produksi yang besar dengan jaringan pemasaran yang menjangkau wilayah Madura.

Meski demikian, BI menilai pengembangan usaha ke depan harus lebih difokuskan pada peningkatan tata kelola, standardisasi mutu produk, penguatan sumber daya manusia, efisiensi produksi, serta perluasan jaringan distribusi agar tidak hanya mengandalkan pasar internal pesantren.

Melalui Program Air Berkah, BI juga mendorong pengembangan usaha AMDK berbasis kebutuhan masing-masing pesantren, mulai dari penguatan manajemen usaha, peningkatan kualitas SDM, pemasaran, hingga optimalisasi kapasitas produksi.

Pendampingan terhadap Pondok Pesantren Annuqayah sendiri telah berlangsung sejak 2014. Selama lebih dari satu dekade, pesantren tersebut berhasil mengembangkan berbagai unit usaha, antara lain pertanian, perikanan, AMDK, koperasi syariah, ritel, bakery, percetakan, klinik, tambak garam, hingga perkebunan. Seluruh unit usaha tersebut kini berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap operasional pesantren.

Selain penguatan usaha, BI juga mendorong digitalisasi transaksi melalui penggunaan pembayaran nontunai, pencatatan keuangan digital, pengelolaan persediaan, serta integrasi data antarunit usaha untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi pengelolaan bisnis.

Ke depan, BI berharap Pondok Pesantren Annuqayah dapat menjadi model pengembangan ekosistem ekonomi pesantren di Jawa Timur sekaligus pusat pembelajaran bagi pesantren lain. Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan ekosistem bisnis pesantren yang terintegrasi, profesional, berdaya saing, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Madura maupun Jawa Timur.***

 

Leave a reply