Jelang KTT ASEAN 2023, Para Menteri Ekonomi Gelar Pertemuan Bahas Isu-Isu Penting

0
93

BI – Pertemuan Menteri Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN ke-22 digelar pada 6-7 Mei 2023 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Pertemuan ini membahas isu-isu perekonomian terkini di kawasan ASEAN, termasuk isu netralitas karbon, ekonomi sirkular, transisi energi, dan pengembangan kendaraan listrik.

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa pada siang hari di pertemuan tersebut, para menteri ekonomi mengadakan sesi khusus dalam format retret untuk membahas isu-isu keberlanjutan di ASEAN, terutama dari aspek ekonomi. Para menteri mempertimbangkan tingkat pembangunan masing-masing negara ASEAN dalam pembahasan itu, dan semua inisiatif yang muncul harus bersifat inklusif.

Pengembangan strategi netralitas karbon ASEAN menjadi sorotan pertama dalam pertemuan tersebut. ASEAN memiliki pandangan yang sama bahwa agenda keberlanjutan merupakan masa depan perekonomian ASEAN dan berkomitmen untuk bekerja sama dalam mendorong perekonomian berkelanjutan di kawasan ini.

Selanjutnya, para menteri membahas implementasi kerangka kerja ekonomi sirkular ASEAN, serta upaya transisi energi negara-negara Asia Tenggara. Isu terakhir yang dibahas adalah kerja sama dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di ASEAN.

Para menteri sepakat bahwa keberlanjutan harus menjadi prioritas utama dalam perekonomian ASEAN. Dalam menghadapi tantangan global, ASEAN perlu bekerja sama dan berkolaborasi untuk mencapai keberlanjutan dan kemajuan ekonomi di kawasan ini.

Di sisi lain, Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan atau Indef mengidentifikasi dua isu yang dianggap akan menjadi tantangan utama bagi perekonomian Asia Tenggara atau ASEAN. Menurut Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, kedua isu tersebut adalah geopolitik dan krisis pangan.

Menurut Tauhid, dinamika ekonomi global akan menjadi tantangan bagi ASEAN karena banyak kebijakan pengetatan yang dilakukan oleh negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat, setelah perang Rusia dan Ukraina. Hal ini berdampak pada ketidakpastian perputaran uang dan berpotensi mempengaruhi perekonomian Asia Tenggara.

Selain itu, krisis iklim seperti fenomena El Niño dan cuaca ekstrem dapat mengancam produksi pangan di ASEAN, sehingga isu ketahanan pangan menjadi persoalan serius. Tauhid menekankan bahwa kedua isu tersebut memerlukan perhatian besar pada tahun ini, karena dinamikanya bisa memengaruhi kebijakan perekonomian kawasan.**

 

Leave a reply